israel zvi barelTelAviv, LiputanIslam.com – Harian Haaretz terbitan Israel Selasa (28/4) memuat sebuah artikel mengenai serangan udara Arab Saudi dan negara-negara sekutunya ke Yaman. Artikel karya Zvy Bar’el itu berkesimpulan bahwa Saudi gagal meraih apa yang diinginkannya dalam serangan bersandi Badai Mematikan tersebut.

“Serangan koalisi pimpinan Saudi, yang masih berlanjut meskipun sudah diumumkan berhenti, bertujuan membatasi pengaruh Iran. Tapi serangan itu membuktikan bahwa keterlibatan Iran di Yaman dan Suriah tidaklah terancam,” tulis analis Israel yang membidangi isu dunia Arab tersebut.

Dia juga menilai serangan itu juga tidak membuat kelompok Houthi mundur, dan Saudi sendiri juga menyadari bahwa serangan udara tidak akan dapat mengakhiri perang sehingga diperlukan serangan darat, namun negara-negara Arab ternyata keberatan terhadap gagasan serangan darat.

Dia melanjutkan bahwa juru bicara koalisi pimpinan Saudi, Ahmad Asiri selama ini tampil menjawab pertanyaan para wartawan laiknya komandan militer dari Amerika Serikat (AS), namun pekan lalu tiba-tiba mengumumkan berakhirnya Badai Mematikan dengan pola yang mirip dengan Israel ketika mengumumkan berakhirnya serangan ke Jalur Gaza, Palestina.

“Mirip dengan deklarasi kemenangan Israel usai perang musim panas lalu di Jalur Gaza, Asiri memberikan rincian mengenai target yang telah rusak dan hancur, termasuk pangkalan militer dan situs rudal. Dia memberikan penjelasan mengenai kerusakan infrastruktur pasukan pemberontak Houthi dan kekalahan yang mereka alami,” tulis Bar’el.

Dia menambahkan, “Namun, ada statistik yang hilang dalam penjelasan tersebut, yaitu jumlah warga sipil Yaman yang terbunuh. Selain itu, dua hari kemudian, serangan itu dimulai lagi hingga tak ada apa apapun yang tersisa dari gencatan senjata yang sesungguhnya maupun pembicaraan mengenai tujuan perang, dan Houthipun gagal dipaksa keluar dari kota-kota yang mereka kendalikan.”

Artikel di koran yang bermarkas di Tel Aviv ini juga menilai klaim Saudi bahwa Badai Mematikan dihentikan atas permintaan presiden pelarian Yaman, Abd Rabbuh Mansur hadi, juga tidak memuaskan, sebab serangan udara ke Yaman sia-sia tanpa serangan darat.
Lebih lanjut Bar’el menyebutkan adanya kekacauan di tengah negara-negara sekutu Saudi.

“Di atas kertas, 10 negara Arab menyatakan kesiapan mereka bergabung dalam perang atau menyediakan dukungan logistik, tapi dalam praktiknya ternyata lebih merupakan serangan Saudi semata. Di Mesir, negara yang segera mendukung perang tersebut, kritikan disuarakan selama perang dan diarahkan terutama pada gagasan untuk memperkenalkan pasukan darat. Pakistan yang juga Muslim namun non-Arab menyatakan tidak akan mengirim pasukan, sementara Turki yang juga non-Arab memberikan pelayanan hanya sebatas kata,” paparnya. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL