Child holds up plastic toy rifle and waves Hezbollah flag during rally to mark Quds Day in southern Lebanese village of Maroun el-RasBeirut, LiputanIslam.com – Gerakan Hizbullah Lebanon menegaskan bahwa aksi Israel membunuh sejumlah petinggi Brigade Ezzedin al-Qassam, sayap militer Hamas, tidak dapat mematahkan kehendak dan tekad Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, dalam berjuang melawan Zionis. Bersamaan dengan ini para analis Palestina menilai penarikan delegasi Israel dari Kairo sebagai trik Tel Aviv untuk menghabisi sejumlah tokoh pejuang Palestina, sementara laporan terbaru menyebutkan bahwa total syuhada Palestina akibat serangan Israel sepanjang Kamis kemarin (21/8) menjadi 46 orang.

“Pengalaman membuktikan bahwa pembunuhan terhadap para pemimpin tidak akan dapat mematahkan kehendak muqawamah (perlawanan), dan malah memperbesar tekad, kekuatan dan daya pertahanan front jihad jihad dan pembebasan,” ungkap Hizbullah dalam statemennya, Kamis kemarin, sebagaimana dilansir Rai al-Youm.

Hizbullah juga menegaskan bahwa kejahatan Israel yang berkelanjutan di Jalur Gaza di tengah kebungkaman dunia Arab dan internasional sudah menjadi “payung perlindungan teroris Zionis” serta merupakan cara mereka dalam upaya menghancurkan semua bentuk kehidupan di Palestina.

Seperti diketahui, tiga petinggi Brigade Ezzedin al-Qassam yang bernama Mohamed Abo Shomaleh, Raed Attar, dan Mohamed Barhoum gugur syahid diserang pasukan Zionis di kota Rafah, Jalur Gaza selatan, Kamis malam kemarin.

Menurut Rai al-Youm, para analis Palestina sependapat bahwa penarikan delegasi Israel secara mendadak dari perundingan Kairo Selasa pagi (18/8) merupakan trik Israel untuk menghabisi para petinggi al-Qassam tersebut.

Para analis itu mengatakan kepada Anadolu bahwa delegasi Israel sengaja ditarik setelah Israel mendapatkan informasi intelijen mengenai keberadaan para petinggi al-Qassam agar dapat menyerang dan membunuh mereka demi menunjang mentalitas perang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sebelumnya terpukul akibat kegagalannya menghabisi Panglima Besar al-Qassam, Mohamed al-Daif.

Delegasi itu ditarik dengan dalih pejuang Palestina telah melanggar gencatan senjata dengan penembakan beberapa roket ke wilayah Israel.
“Penarikan delegasi Israel dari perundingan Kairo tak lebih dari tipu daya Israel untuk menyerang para petinggi militer di Gaza,” ungkap Hani al-Misri, Direktur Pusat Studi dan Kajian di Ramallah, Tepi Barat.

“Israel mencari kemenangan militer di Jalur Gaza, sekarang mereka menganggap keterbunuhan para petinggi militer faksi pejuang Palestina itu sebagai kemenangan dan prestasi,” lanjutnya.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh Hani al-Basus, dosen ilmu politik Universitas Islam Gaza. Menurutnya, sebelum serangan itu Tel Aviv sengaja mengulur-ulur waktu perundingan untuk dapat mengeruk informasi intelijen sebanyak mungkin mengenai pergerakan para komandan pejuang Palestina di Jalur Gaza selama masa gencatan senjata yang berlangsung sekitar dua minggu.

Dosen lain ilmu politik dari Universitas al-Azhar, Gaza, juga berpendapat demikian. “Keputusan Israel menarik delegasinya dari perundingan Kairo dengan dalih adanya penembakan roket dari Gaza ke wilayah pendudukan (Israel), padahal tidak ada satupun faksi Palestina yang mengaku melakukannya, jelas merupakan tipu daya Israel untuk melancarkan serangkaian aksi pembunuhan terhadap para komandan militer Palestina,” terangnya.

Sementara itu, laporan terbaru mengenai korban jiwa yang jatuh akibat serangan Israel ke Jalur Gaza sepanjang Kamis kemarin dilaporkan membengkak menjadi 46 orang. Dengan demikian, total syuhada Palestina menjadi 2,083 orang, sedangkan korban luka sekitar 10,500 orang. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL