Gaza, Ramallah, LiputanIslam.com –  Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, dan pemerintah otonomi Palestina mengecam keras kunjungan Katib Aam PBNU KH Yahya Khalil Tsaquf yang akrab dipanggil Gus Yahya ke Israel (Palestina pendudukan 1948).

Dalam siaran persnya, Selasa (12/6/2018), Hamas menyebut kunjungan itu sebagai “tindakan tercela” dan merupakan “penghinaan bukan hanya terhadap bangsa Palestina dan pengorbanannya, melainkan juga terhadap bangsa Indonesia dan sejarahnya yang panjang dalam mendukung urusan Palestina.”

Hamas menyebutkan bahwa kunjungan ini sangat menguntungkan rezim fasis Israel.

“Kunjungan ini menjadi dukungan besar bagi musuh yang fasis ini dan statusnya, memberinya alasan untuk meningkatkan kejahatan terhadap bangsa dan kesucian kami, dan membuka pintu lebar-lebar bagi setiap orang yang menginginkan normalisasi hubungan dengan rezim pendudukan ini,” tegas Hamas.

Secara terpisah, Kemendagri Palestina juga mencela kunjungan tokoh senior NU tersebut dan menilainya sebagai “pukulan bagi Palestina dan al-Quds serta bagi Indonesia sendiri sebagai negara Islam terbesar di dunia.”

Otoritas Palestina juga mengingatkan bahwa kunjungan ini bertolak belakang dengan “sikap pemerintah dan rakyat Indonesia yang selalu menegaskan penolakannya terhadap rezim pendudukan dan politiknya.”

Di Indonesia sendiri Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Ma’ruf Amin menyebut kunjungan KH Yahya Cholil Staquf ke Israel sebagai urusan pribadi sehingga tidak patut dikaitkan dengan NU dan MUI.

“Pertama, MUI konsisten membela Palestina dan kita dukung pemerintah yang bela Palestina dan mendukung semua negara yang menyatakan Ibu Kota Yerusalem sebagai ibu kota Palestina. Masalah Yahya Cholil itu nggak ada kaitannya dengan MUI. Jangankan dengan MUI, dari PBNU saja tidak. Karena itu, kita tidak memberikan mendukung apa yang dilakukan Yahya,” tegas Ma’ruf kepada wartawan di kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (12/6/2018).

Ma’ruf menambahkan, “Itu inisiatif sendiri dan tanggung jawab sendiri. Nanti kan seberapa jauh itu mempunyai pengaruh terhadap langkah-langkah Kemlu, apakah itu memperlancar upaya-upaya Kemlu dalam rangka mengupayakan perdamaian dengan tetap menjaga agar Palestina menjadi negara yang merdeka dan berdaulat atau justru mengganggu, nanti akan dilihat. Tetapi sebenarnya diplomasi yang kita inginkan tetap melalui Kemlu secara resmi.”

Senada dengan ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga menilai kunjungan itu urusan pribadi, meskipun Gus Yahya juga merupakan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ( Wantimpres) yang baru dilantik pada Kamis, 31 Mei 2018 lalu.

 

“Itu urusan pribadi ya. Beliau menyampaikan, itu urusan pribadi, karena beliau diundang sebagai pembicara di Israel,” ujar Jokowi di Istana Presiden Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/6/2018). Presiden Jokowi mengaku belum mendapatkan laporan langsung dari Yahya soal kunjungan tersebut.

Ahad lalu Ketua PBNU Robikin Emhas menepis dugaan adanya kerja sama program maupun kelembagaan antara NU dengan Israel.

“Tidak ada kerja sama NU dengan Israel. Sekali lagi ditegaskan,” ujarnya.

Dia juga mengatakan bahwa kepergian ke Israel dilakukan Gus Yahya selaku pribadi, bukan dalam kapasitas sebagai Katib Aam PBNU, apalagi mewakili PBNU. (mm/rt/alalam/detikcom/kompas/republika)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*