suporter isisLondon, LiputanIslam.com – Surat kabar Inggris Guardian menilai kebijakan luar negeri Inggris menunjukkan bahwa kampanye perang melawan teroris tak lebih dari sekedar retorika, selagi yang mengemuka adalah masalah uang dan penjualan senjata kepada rezim-rezim diktator Arab yang selama ini getol menyokong terorisme.
Sebagaimana dikutip IRNA, kolumnis Guardian Owen Jones dalam artikel terbarunya yang dimuat Selasa (17/11) menyebutkan, “Apa yang disebut perang melawan teror sudah berlangsung hampir 13 tahun, tapi mana ada orang waras yang percaya perang ini sukses?”

Setelah menyebutkan beberapa hal yang, menurutnya, menunjukkan bahwa terorisme kian parah dan merebak, Jones mengingatkan adanya mata rantai yang luput dari perhatian, yaitu hubungan Barat dengan para diktaror Timteng yang banyak andil dalam kemunculan fenomena terorisme. Barat menjalin aliansi militer, ekonomi dan diplomatik dengan rezim-rezim yang sebagian di antaranya “bengis dan penindas”.

Jones menyebutkan contoh Qatar yang memberikan dukungan militer dan ekonomi kepada Front al-Nusra yang notabene cabang al-Qaeda di Suriah dan lain-lain. Meskipun banyak indikasi menunjukkan bahwa para petinggi Qatar diam-diam menyokong kelompok-kelompok teroris, namun Barat tidak pernah meminta Qatar menghentikan bantuan dananya untuk terorisme. Sebaliknya, Inggris malah gentol mempersenjata rezim diktator Qatar.

Menurut Jones, apa yang dilakukan Qatar itu juga dilakukan oleh Kuwait. Di Kuwait bahkan ada beberapa ulama senior yang secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Front al-Nusra dan melakukan penggalangan dana melalui acara-acara TV dengan memanfaatkan kelemahan undang-undang negara ini di bidang keuangan dan pencucian uang. Betapapun demikian, Inggris tidak mungkin dapat diharap akan menekan Kuwait dalam masalah ini, mengingat Kuwait adalah sekutu penting Inggris. Sebaliknya, Inggris juga justru getol menjual senjata dan perlengkapan militer dan keamanan ke Kuwait.

Arab Saudi juga disebutkan sebagai contoh yang lebih nyata lagi, baik dalam diktatorisme maupun dalam peranannya di baliknya kemunculan dan merebaknya fenomena radikalisme dan terorisme yang dimulai dengan penebaran faham Wahabisme di Afghanistan menyusul serangan Uni Soviet ke Afghanistan, dan kini Suriahpun juga hendak dijadikan Riyadh sebagai Afghanistan kedua.

Jones mengingatkan bahwa meskipun Saudi memberikan bantuan 100 juta US Dolar untuk program anti terorisme PBB dan mufti besarnyapun menyebut ISIS sebagai musuh nomor wahid, namun para fundamentalis Wahabi di seluruh penjuru dunia mendapai suplai dana dan ideologi dari kerajaan Saudi.

Namun, lanjut Jones, jangan harap pemerintah Inggris juga akan beraksi terhadap Saudi. Inggris bersekutu dengan rezim Saudi bahkan sejak 1915 dan negara ini juga menjadi pasar senjata terbesar bagi Inggris.

“Kebijakan luar negeri Inggris menunjukkan bahwa semua slogan tentang terorisme dan keharusan melakukan tindakan nyata tidaklah lebih dari retorika belaka. Para sekutu kita itu (rezim-rezim dikator Arab) sudah tenggelam dalam dukungan kepada terorisme. Namun, selagi yang mengemuka adalah uang dan penjualan senjata maka para penguasa kita akan tetap bungkam,” pungkas Jones. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL