tokoh saudi najranSanaa, LiputanIslam.com –  Sekelompok aktivis politik dari berbagai suku kawasan Najran, Arab Saudi, yang berbatasan dengan Yaman dilaporkan telah mendirikan sebuah organisasi politik- militer anti rezim al-Saudi bernama “Gerakan Kebebasan Najran” yang sekaligus menandai tuntutan kemerdekaan kawasan ini dari Saudi.

Sebagaimana dilaporan TV Naba, Minggu (21/6), aktivis politik Saudi Abu Bakar Abu Ahmad al-Salami mengatakan“Kaum muda dan aktivisi Najran telah meminta kepada komite-komite rakyat, para tetangga, dan saudara-saudara misan mereka di Yaman supaya memberikan pelatihan militer kepada anak-anak muda Najran.”

Dia menambahkan, “Gerakan ini mencakup semua suku Najran, dan akan memulai perangnya di berbagai kawasan yang dikuasai tentara pendudukan Saudi di wilayah selatan Najran.”

Di sisi lain, suku-suku Najran menyatakan bahwa tentara Saudi dan kawanan bersenjata pendukung rezim al-Saud sudah menjadi sasaran serangan di berbagai kawasan Najran, dan dalam konteks ini telah terjadi pertempuran sengit di sebagian daerah Najran pada Selasa pekan lalu.

Suku-suku Najran beberapa waktu lalu sudah mendeklarasikan perang terhadap rezim Saudi. Mereka menuding Riyadh telah mengkhianati semua perjanjian yang ada, dan karena itu mereka menuntut pemisahan dan kemerdekaan Najran dari Saudi.

Syeikh Abdullah Fawzi Akram, kepala suku Yam dan Walad di provinsi Najran tiga hari lalu kembali menyatakan bahwa penduduk Najran, Jazan dan Usair menghendaki pemisahan dari Saudi. Menurutnya, sebagian suku di selatan Najran bahkan sudah bergabung dengan pasukan Yaman melawan tentara Saudi.

Suku-suku di kawasan Najran, Jazan dan Usair pada awal bulan suci Ramadhan telah menyelenggarakan konferensi untuk mendeklarasikan tuntutan kemerdekaan tiga kawasan ini dari Saudi.  Tiga kawasan ini semula merupakan bagian dari Yaman, namun dianeksasi oleh Saudi pada tahun 1934.

Disebutkan bahwa ada tiga faktor yang mendorong penduduk di tiga kawasan itu menuntut kemerdekaan;

Pertama, ketidak puasan publik terhadap pemerintah pusat dalam pengelolaan negara.

Kedua, pembiaran pemerintah pusat terhadap kemiskinan di wilayah selatan yang secara kultural sangat dekat dengan bangsa Yaman.

Ketiga, serangan dan aksi pembantai Saudi dan sekutunya terhadap rakyat Yaman.

Keempat, inkonsistensi pemerintah Saudi terhadap janji-janji mereka untuk memperlakukan warga selatan Saudi sebagai warga kelas satu sebagaimana warga Saudi lainnya.  (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL