Baghdad, LiputanIslam.com –  Pemimpin gerakan Asaib Ahl al-Haq di Irak, Qais Khazali, mengaku berharap di parlemen Irak bulan depan akan dilakukan pemungutan suara untuk mendesak Amerika Serikat (AS) agar menarik pasukannya dari Negeri 1001 Malam ini. Dia menilai tidak tertutup kemungkinan pasukan itu akan diusir dengan cara paksa.

“Tidak ada lagi dasar bagi keberadaan ribuan tentara AS di Irak setelah kekalahan ISIS,” kata Khazali, yang gerakannya merupakan salah satu elemen utama kelompok relawan besar Irak al-Hash al-Shaabi, dalam wawancara dengan Associated Press di Baghdad, Senin (28/1/2019).

Dia juga menekankan bahwa pasukan AS bisa jadi akan diusir paksa jika mereka tidak menggubris aspirasi rakyat Irak.

Dia menyoal, “Jika tujuan terpenting kehadiran mereka di sini adalah untuk menghadapi ancaman militer yang ditimbulkan oleh ISIS maka bahaya ini sudah musnah. Dalam kondisi demikian lantas apa sekarang apa dasar keberadaan pasukan ini?”

Khazali menjelaskan bahwa keberadaan sejumlah kecil penasihat dan pelatih militer AS di Irak masih berkemungkinan untuk melakukan tugas-tugas logistik, namun, jumlah dan lokasi penempatan mereka harus ditentukan oleh komite bersama, dan setiap kehadiran di luar lingkup ini akan dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan oleh parlemen, rakyat dan faksi-faksi politik,  termasuk Asaib Ahl al-Haq.

Mengenai keadaan di parlemen tentang masalah ini dia mengatakan, “Saya kira lebih dari separuh anggota Dewan pada dasarnya menolak kehadiran militer AS. Jika AS ingin memaksakan kehadirannya dengan paksa sambil mengabaikan konstitusi negara dan keputusan parlemen maka  Irak mungkin akan menghadapinya dengan cara yang sama, mengusir mereka dengan paksa, tapi tahap pertama adalah politik.”

Khazali, yang gerakannya didukung oleh  Iran juga menyinggung isu serangan Israel terhadap sasaran-sasaran Iran di Suriah. Dia mengatakan bahwa Tel Aviv dan Teheran tampak sedang menuju ke sebuah konfrontasi yang dapat berubah menjadi perang regional.

“Jika Israel menargetkan sasaran di Irak, dengan dalih apa pun, negara kita sebagai negara berdaulat akan membela diri, dan respon kita terhadap serangan Israel tidak terbatas,” tegasnya.

Dia menjelaskan bahwa Irak tidak akan melakukan intervensi dalam konflik antara kedua kekuatan itu kecuali jika secara langsung diserang oleh Israel.

“Jika Tel Aviv menyerang Libanon atau Suriah dan keduanya meminta bantuan kepada Irak maka saya pribadi akan menjadi orang pertama yang merespon,” lanjutnya.

Khazali pernah ditahan oleh pasukan AS dan Inggris pada kurun waktu antara tahun 2007 dan 2010, dan beberapa tahun kemudian gerakannya ikut andil dalam penumpasan ISIS di Suriah dan Irak.

Pada akhir 2017 Khazali mengunjungi kawasan perbatasan Lebanon-Israel bersama anggota Hizbullah, dan menyatakan solidaritasnya dengan Lebanon dan Palestina di depan Israel.

Dalam pemilihan umum terbaru di Irak Asaib Ahl al-Haq telah mencetak kemajuan besar yang membuat Khazali sekarang memimpin sebuah faksi parlemen yang terdiri atas 15 wakil rakyat. (mm/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*