Riyadh, LiputanIslam.com – Gelombang kecaman dan kemarahan terhadap kejahatan terbaru Kerajaan Arab Saudi berupa eskekusi terhadap 37 warganya terus berdatangan dari berbagai kalangan.

Berbagai organisasi, partai, dan tokoh memandang eksekusi yang dilakukan otoritas Saudi pada Selasa 23 April 2019 itu sebagai pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia. Mereka juga menilai Amerika Serikat (AS) merupakan sekutu utama Saudi dalam kejahatan ini karena melindungi Riyadh demi menjaga kepentingan AS di bidang minyak dan pengadaan dana.

Abdullah al-Sarih, salah satu korban dari eksekusi massal di Arab Saudi, mengatakan, “Mereka menuduh kami pembuat onar, padahal kami keluar dengan cara damai demi kehidupan yang kami alami, dan jika tidak keluar kami tidak akan mendapat manfaat. Kami keluar (ke jalanan) secara damai, tapi mereka menuduh kami teroris.”

Kasus eksekusi 37 orang oposisi oleh otoritas Saudi memicu reaksi kemarahan di negara ini, sementara Komisaris Tinggi HAM PBB Michelle Bachelet mengutuk dan menganggapnya berlebihan, apalagi tiga di antara korban eksekusi adalah anak di bawah umur saat menerima vonis hukuman.

Uni Eropa menganggap eksekusi itu pelanggaran serius terhadap HAM serta dapat memicu ketegangan bermotif sektarian.

Amnesty International menegaskan bahwa eksekusi itu mengkonfirmasi tindakan Riyadh menggunakan hukuman mati untuk membasmi oposisi.

Human Rights Watch (HRW) menyebutkan bahwa banyak korban eksekusi itu  di hukum hanya berdasarkan pengakuan yang didapat dengan cara paksa. HRW menekankan bahwa hal ini menunjukkan Riyadh tidak serius berupaya memperbaiki rapor HAM-nya yang buruk.

Hizbullah menyatakan AS adalah mitra bagi rezim Saudi dalam tanggung jawabnya atas kejahatan itu, karena melindungi rezim Saudi, antara lain dengan cara mendesak masyarakat internasional agar menutup mata di depan kejahatan rezim Saudi agar AS dapat menjaga kepentingan finansial dan minyaknya.

Kelompok pejuang Asaib Ahl al-Haq di Irak menyerukan kepada PBB dan lembaga-lembaha peduli kemanusiaan untuk segera turun tangan melindungi warga minoritas Arab Saudi di depan rezim yang menerapkan pola-pola teror sebagaimana terlihat dalam eksekusi tersebut.

Jam’iyyah Al-Wefaq di Bahrain menegaskan bahwa penggunaan eksekusi bermotif politik tidaklah menegakkan keadilan dan stabilitas dan tidak pula membangun kebangsaan. Kelompok besar di Bahrain ini mengingatkan bahwa eksekusi berlatar belakang pemikiran dan keyakinan serta tuntutan politik sangat berbahayalah.

Di depan kedutaan Arab Saudi untuk Inggris di London puluhan aktivis serta tokoh politik dan agama menggelar aksi protes terhadap eksekusi massal tersebut sembari meneriakkan slogan-slogan anti rezim Saudi, dan menegaskan bahwa Riyadh menyebarkan ekstrimisme, faham takfiri, dan terorisme di seluruh dunia. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*