KuwaitCity, LiputanIslam.com –  Negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) menegaskan komitmen mereka kepada pemerintah Amerika Serikat (AS) “demi keamanan, stabilitas, dan perdamaian di kawasan, serta demi membendung ekstremisme dan terorisme, dan melawan kebijakan politik agresif dan ekspansif Iran di kawasan.”

Penegasan ini dinyatakan dalam deklarasi yang dirilis di akhir Pertemuan Puncak ke-30 GCC di Kuwait, Senin malam (4/12/2017), dan dilansir oleh kantor berita resmi Kuwait, KUNA.

Mengenai Yaman GCC menyesalkan pembunuhan mantan presiden Yaman Ali Abdullah Saleh, dan menyerukan persatuan seluruh komponen bangsa Yaman, termasuk partai Kongres Rakyat agar “terlepas dari milisi Houthi (Ansarullah) yang terafiliasi dan didukung Iran.”

Organisasi negara-negara Teluk Persia yang terdiri atas Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, dan Oman ini juga menegaskan penolakan mereka terhadap “peranan Iran dan organisasi teroris Hizbullah dalam mengacaukan stabilitas Lebanon.”

Mereka juga menekankan “keharusan mencegah Iran meraih senjata nuklir, menghentikan program rudal balistiknya, membendung upayanya mengacaukan keamanan dan stabilitas di kawasan dan dukungannya kepada terorisme, serta keharusan memerangi aktivitas agresif Hizbullah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), milisi Houthi dan organisasi-organisasi teroris lainnya.”

Mengenai Palestina GCC menegaskan keharusan “tidak mengubah status hukum dan politik atau diplomatik kota Al-Quds”.  Hal ini secara tidak langsung menyinggug rencana Presiden AS Donald Trump memindah Kedubes AS dari Tel Aviv ke Al-Quds.

“Pengubahan status ini dampaknya akan sangat berbahaya dan akan menambah pelik konflik Palestina-Israel dan proses perundingan untuk penyelesaian final,” ungkap GCC.

Deklarasi GCC juga berisi pernyataan sikap mengenai krisis Suriah dan Irak serta kondisi warga Muslim Rohingya di Myanmar.

Pertemuan Puncak GCC di Kuwait yang dipimpin oleh Menlu Saudi Adel Al-Jubeir ini dihadiri oleh delegasi dengan tingkat yang terendah sejak organisasi ini dibentuk pada tahuh 1981, karena pemimpin tertinggi yang hadir hanya dari dua di antara enam negara anggota, yaitu Emir Kuwait sendiri Jaber Al-Ahmad Al-Sabah selaku tuan rumah dan Emir Qatar Tamim Bin Hamad Al-Thani yang datang karena berharap dapat memperbaiki hubungannya yang buruk dengan sebagian besar anggota GCC . (mm/rayalyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL