ied shahidRamallah, LiputanIslam.com – “Tiada hari raya di Gaza”, “Tiada ied, dan setiap hari selalu ada syahid”, “Palestina melawan,” dan “Gaza adalah kami semua,” demikian slogan yang terpampang di baju-baju dan jubah-jubah penduduk Palestina di wilayah Tepi Barat, sebagaimana dilaporkan The Palestinian Information Center (PIC) pada hari Senin 28 Juli 2014, yang juga merupakan Idul Fitri 1 Syawal 1435 Hijriah di Palestina.

Meski alunan takbir tetap bergema, namun banyak penduduk Palestina di Tepi Barat, terutama anak-anak muda, sengaja mengenakan pakaian bertuliskan slogan-slogan tersebut untuk menunjukkan solidaritasnya kepada saudara-saudara mereka yang sengsara di Jalur Gaza akibat serangan masif Rezim Zionis Israel yang sudah berlangsung lebih dari tiga minggu.

“Ini merupakan ungkapan sederhana sebagai bentuk solidaritas kami dengan Gaza pada ied kali ini, dan sebagai ekspresi untuk masyarakat bahwa ied tidak akan mengagumkan ketika saudara-saudara kami terusir dari rumah-rumah mereka dan berada di bawah hujan bom di Jalur Gaza,” ungkap Mohammad al-Tawil.

Penduduk Tepi Barat juga tak seperti biasanya dalam berbagi ucapan di hari raya melalui SMS dan lain-lain. Sebagaimana masyarakat Arab lainnya, biasanya mereka mengucapkan “Kullu am wa Antum bikhair” (Semoga kebaikan bersama Anda sepanjang tahun), namun kali ini mereka menyatakan, “Kullu am wa al-muqawamatu bikhair” (Semoga kebaikan bersama perjuangan sepanjang tahun).

Di Jalur Gaza sendiri, gema takbir juga tetap berkumandang dari menara-menara masjid serta terdengar di jalan-jalan meskipun pemandangan di sana sini penuh puing dan reruntuhan bangunan. Mereka berusaha untuk sejenak melupakan nestapa dan menahan kepedihan dengan tetap menjalani tradisi saling kunjung dan bersalam-salaman.

Umat Islam di Jalur Gaza biasanya mendirikan shalat ied di tempat terbuka demi menghadirkan nuansa khas hari raya dan menampung jumlah jamaah lebih besar. Namun kali ini mereka meliburkan tradisi ini demi keamanan karena keadaan masih sangat mencekam. Mereka cukup menunaikannya di dalam masjid-masjid untuk menghindari konsentrasi massa dalam jumlah besar yang berpotensi menjadi sasaran empuk serangan udara pasukan Zionis Israel.

“Kami merayakan lebaran di gedung sekolah ini. Sekejam apapun kejahatan rezim penjajah (Israel), kami tetap tidak akan membiarkan mereka merampas kebahagiaan ini dari kami,” tutur Nadiya Subhi, salah pengungsi di kamp al-Barij di pusat kota Gaza.

“Kami datang ke sekolah ini walaupun pasukan penjajah telah menggempur rumah-rumah kami. Semua ini tidak menghalangi kami untuk tetap merayakan ied, walaupun kami terlunta sebagai pengungsi. Rezim penjajah tidak memahami bangsa Palestina jika mereka mengira dapat menghalangi kami dari perayaan ied ini,” imbuhnya.

Sementara itu, menurut laporan al-Alam, satu orang Palestina dilaporkan gugur diserang pasukan Israel di Jalur Gaza. Selain itu, satu lagi warga Palestina juga menghembuskan nafas terakhirnya akibat luka parah yang dideritanya sejak Israel menyerang kota Khan Younis, Jalur Gaza selatan, beberapa hari lalu.

Ahad (27/7) sebanyak 16 warga Palestina gugur diserang Israel kendati pihak pejuang Palestina menyerukan gencatan senjata selama satu hari. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL