rusia-iran-turkiLondon, LiputanIslam.com –   Surat kabar Financial Times (FT) terbitan London, Inggris, melaporkan bahwa di Timteng telah terbentuk perimbangan kekuatan baru di mana Rusia dan Iran telah membuat negara-negara lawannya kebingungan.

“Rusia dan Iran telah memiliki tahun baik yang mengacaukan lawan-lawan mereka di Timur Tengah,” tulis FT, Rabu (28/12/2016), dalam sebuah artikelnya yang ditulis oleh David Gardner.

Gardner menyebutkan bahwa para menlu Rusia, Iran, dan Turki telah menggelar pertemuan segi tiga di Moskow pada awal bulan ini tanpa mengundang sejawat mereka di Amerika Serikat, membicarakan soal Suriah pasca pembebasan Aleppo, dan perundingan ini diselenggarakan ketika pasukan Suriah dengan dukungan Rusia dan Iran berhasil menyingkirkan kawanan bersenjata dari Aleppo dan memperkuat pemerintah Damaskus.

“Sebuah perundingan politik yang riil tak memiliki tempat bagi Panglossian penunda yang, lebih jauh lagi, akan merusak kemenangan Rusia dan Iran karena mereka menikmati kehancuran pemberontak Aleppo,” tulis Gardner.

Menurutnya, Turkipun memilih bersikap realistis daripada terlalu fokus pada kemenangan Rusia dan Iran itu. Ankara yang semula menyokong kelompok-kelompok pemberontak “Sunni” untuk menggulingkan pemerintahan al-Assad kini malah merapat dengan Moskow dan Teheran karena kuatir akan terbentuk kawasan otonomi Kurdi di sepanjang perbatasan Suriah-Turki.

Dia juga menilai Rusia di tahun 2016 berhasil mengacaukan kekompakan negara-negara Eropa serta memancing hasrat sejumlah pemimpin Timteng untuk merapat ke Rusia.

“Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Abdel Fattah al-Sisi, mantan panglima militer yang memerintah Mesir, sudah menjadi penggemar Putin. Benjamin Netanyahu, perdana menteri sayap kanan Israel, sudah diolah oleh pemimpin Rusia. Mohammed bin Salman, pemuda wakil putra mahkota yang secara de facto berkuasa di Arab Saudi, telah mengembangkan apa yang disebut oleh seorang pejabat Arab ‘hubungan fungsional’ dengan Putin,” ungkap Gardner.

Mengenai ISIS, dia menilai kelompok teroris ini bisa jadi akan tumbang di tahun 2017.

“Namun, setelah kehilangan Mosul sebelum akhirnya Raqqa, ISIS akan berubah menjadi pemberontakan lokal dan terorisme internasional,” ramalnya. (mm/financialtimes)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL