mesir fahmi huwaidiBaghdad, LiputanIslam.com – Kolumnis senior dan pemikir Muslim tersohor Mesir Fahmi Huwaidi dalam sebuah artikelnya yang dimuat di situs Aljazeera.net menilai tragedi pembantaian yang sedang melanda Gaza, khususnya di kawasan Shejaiyah, sebagai Tragedi Karbala di era kontemporer. Menurutnya, bangsa Palestina di Jalur Gaza terbiarkan sendirian oleh bangsa-bangsa Arab sebagaimana cucu Nabi Saw, Husain bin Ali ra, dibiarkan oleh umat Islam dibantai oleh penguasa Yazid bin Muawiyah pada sekitar 13 abad silam.

“Saya melihat Yazid membasmi Husain di Shejaiyah, dan membanjiri Jalur Gaza dengan darah dan potongan tubuh manusia di saat sebagian besar bangsa Arab tak dapat menolong orang-orang yang tertindas dan terkepung. Bangsa-Bangsa Arab menelantarkan mereka dan membiarkan pedang mengalirkan darah serta merobohkan bangunan, sama persis dengan apa yang diperbuat balatentara Yazid di Kufah pada 13 abad silam terhadap Husain dan keluarganya yang telah berubah menjadi simbol pengorbanan dan pembelaan terhadap kebenaran dan kemerdekaan,” tulis Huwaidi dalam artikelnya yang berjudul “Karbala Kontemporer, Kemenangan Darah Atas Pedang”.

Islamis moderat ini menambahkan, “Memang, Tragedi Karbala hanya berlangsung tiga hari, sedangkan tragedi Karbala di era kita sudah memasuki hari ke-13. Memang, pembantai Husain dan keluarganya adalah bagian dari umat Islam sendiri, sedangkan pembantai di zaman kita adalah musuh yang didukung oleh sebagian orang Islam sendiri. Benar pula bahwa korban tragedi yang pertama jumlahnya sekitar 70 orang, sedangkan korban tragedi di zaman kita 400 lebih dan terus bertambah setiap hari. Namun demikian, kejahatan pembunuhannya sama saja, demikian pula pembiaran oleh penduduk sekitarnya. Korban tragedi pertama masuk ke dalam sejarah melalui pintu pelaknatan, sedangkan tragedi di zaman kita masuk melalui pintu kepahlawanan dan keluhuran.”

Lebih lanjut Huwaidi menyebutkan bahwa apa yang dilakukan oleh penduduk Gaza bukanlah berdasar pertimbangan kekuatan militer untuk penumpahan darah, melainkan berdasarkan pertimbangan normatif dan keluhuran.

Dia menuliskan, “Dari sisi ini, orang-orang Palestina di Gaza telah berperan seperti Husain dan keluarganya. Pada Karbala klasik, kubu Husain segera tertumpas habis hingga diratapi oleh para pengikutnya dalam berbagai bentuk dan ekspresi sampai sekarang, sedangkan pada Karbala kontemporer orang-orang Palestina tidak kalah, tidak mundur, dan terus melawan para pembantainya. Pada Karbala terdahulu mereka menampilkan pengorbanan, sedangkan pada Karbala masa kini mereka memperagakan keteguhan dan keperkasaan, hal yang menghasilkan lembaran-lembaran cemerlang dalam catatan sejarah mereka serta membangkitkan harapan untuk masa depan.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL