tayyip erdogan turkiIstanbul, LiputanIslam.com – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Rabu (20/7), mengumumkan negaranya berada dalam situasi darurat untuk jangka waktu tiga bulan pasca peristiwa upaya kudeta gagal yang terjadi pekan lalu.

“Dewan menteri telah menetapkan situasi darurat untuk jangka waktu tiga bulan. Keputusan ini urgen demi pembasmian secepatnya semua unsur organisasi teroris yang terlibat dalam upaya kudeta,” katanya dalam konferensi pers di Ankara, ibu kota Turki, sebagaimana dilansir AFP.

Dia menambahkan, “Langkah ini sama sekali tidak bertentangan dengan demokrasi, hukum dan kebebasan. Sebaliknya bertujuan untuk melindungi dan memperkuat mereka.”

Tanpa memberikan penjelasan lebih jauh, dia mengatakan bahwa upaya kudeta “masih belum selesai, dan bisa jadi masih ada rencana-rencana lain.”

Sebelumnya, tanpa menyebutkan nama, Erdogan menyatakan tidak tertutup kemungkinan negara lain berada di balik peristiwa berdarah tersebut.

“Bisa jadi ada negara-negara lain yang terlibat,” katanya dalam wawancara dengan Aljazeera.

Dia merasa bangga karena rakyat memenuhi seruannya untuk turun ke jalan ketika upaya kudeta terjadi pada Jumat malam pekan lalu.

“Rakyat segera merespon ketika saya meminta mereka turun ke jalanan untuk membela demokrasi,” katanya.

Menurutnya, 12 jam setelah kejadian itu keadaan dapat dikendalikan secara penuh, dan dalam hal ini rakyat Turki sudah menimba pengalaman di masa lalu dalam menghadapi upaya kudeta.

Dia bercerita, “Hari Jumat itu saya ada di resort Marmaris, dan tiba-tiba saya mendapatkan kabar mengenai adanya upaya kudeta.

Saya mendapatkan kabar pertama dari saudara ipar… Saya kemudian berbicara dengan kepala intelijen nasional untuk membahas penanggulangan upaya kudeta.”

Dia melanjutkan bahwa begitu mengetahui upaya itu gagal dia segera bertolak dari Marmaris menuju Dalaman, dan dari sana dia bertolak ke Istanbul.

“Mungkin ada celah di badan intelijen sehingga ada penyusupan organisasi teroris Fethullah Gulen,” imbuhnya.

Dia juga mengatakan bahwa pembasmian upaya kudeta sekarang masih belum final karena bisa jadi masih ada rencana-rencana lain, dan badan intelijen dan pengadilan telah mengajukan argumentasi-argumentasi yang menunjukkan bahwa Fethullah Gulen, tokoh berpengaruh Turki yang tinggal di Amerika Serikat (AS), berada di balik upaya tersebut.

Mengenai jumlah orang-orang yang ditangkap pasca upaya tersebut Erdogan mengatakan sudah ada 9004 orang.

BBC kemarin melaporkan bahwa setidaknya 45.000 orang telah ditangkap dan dipecat dari pekerjaannya oleh pemerintah Turki.

Menurut BBC, media Turki melaporkan sebanyak 15.300 guru telah dipecat, 1.577 dekan diminta mundur, 8.777 staf kementerian dalam negeri diberhentikan, dan 1.500 pegawai kementerian keuangan dipecat.

Selain itu badan pengatur media Turki juga telah mencabut izin 24 channel TV dan stasiun radio karena dituduh terkait dengan Gulen.
Sebelumnya, 6.000 personil tentara dan 9.000 polisi telah juga ditangkap, dan sekitar 2.000 hakim diberhentikan.

Dewasa ini Turki mendesak AS untuk mengektradisi Gulen. Menurut Gedung Putih, dalam pembicaraan telepon dengan Presiden AS Barack Obama, Selasa (20/07), Erdogan telah menyampaikan langsung permintaan tersebut. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL