erdogan melihat putinAnkara, LiputanIslam.com – Recep Tayyip Erdogan mengaku siap meletakkan jabatannya sebagai presiden Turki apabila negaranya terbukti membeli minyak dari kelompok teroris ISIS. Dia juga mengaku mencoba menghubungi Presiden Rusia Vladimir Putin via telefon, namun ditolak oleh Putin.

“Jet tempur Turki awalnya tidak tahu bahwa pesawat yang ditembak jatuh Selasa lalu itu milik Rusia. Pusat itu melanggar wilayah udara Turki sehingga diminta supaya pindah ke arah pesawat lain dengan meninggalkan angkasa Turki, tapi pesawat itu tidak patuh sehingga mengundang intervensi jet tempur Turki,” katanya dalam wawancara dengan France24, sebagaimana dikutip Alalam, Jumat (27/11).

Dia menambahkan bahwa seandainya jet tempur Turki mengetahui bahwa pesawat itu milik Rusia maka tindakan yang akan diambil akan berbeda. Karena, menurutnya, Turki tidak ingin hubungannya dengan Rusia tegang, apalagi hubungan ekonomi kedua negara mengalami kemajuan.

Dia kemudian mengaku sudah mencoba menghubungi Putin via telefon, namun Putin menolaknya.
Mengenai desakan Putin supaya Turki meminta maaf kepada Rusia, Erdogan mengatakan, “Putin sebaiknya mengetahui terlebih dahulu data-data militer mengenai apa yang terjadi secara persis, sebelum dia mendesak Ankara supaya meminta maaf atas kejadian itu.”

Dia menepis tuduhan Rusia bahwa Turki membeli minyak dari ISIS. Dia menantang semua pihak yang melontarkan tuduhan itu supaya mengajukan bukti-bukti, dan jika sampai terbukti maka dia siap meletakkan jabatannya sebagai presiden Turki.

Erdogan kemudian mengritik Rusia karena, menurutnya, tidak bertujuan memerangi ISIS di Suriah, melainkan lebih bertujuan menyasar kelompok-kelompok oposisi Suriah dan membela pemerintahan Bashar al-Assad.

Di pihak lain, sebagaimana dilaporkan PressTV, Putin dalam konferensi pers bersama sejawat Perancisnya, Francois Hollande, di Kremlin, Jumat, menyebut serangan Turki itu sebagai pengkhianatan yang dilakukan oleh teman sendiri. Sebab, menurut Putin, tidak mungkin Angkatan Udara Turki tidak mengetahui pesawat itu milik Rusia.

Sebagai reaksi atas peristiwa penembak jatuhan pesawat tersebut, Moskow membatalkan pertemuan para pemimpin dan menteri Rusia-Turki , memutus total hubungan militer Rusia dengan Turki , melarang warganya bepergian ke Turki, tidak mengizinkan impor komoditas Turki, menempatkan sistem rudal pertahanan udara S-400, dan mengirim kapal penjelajah Moskva yang berpeluncur rudal anti serangan udara.

Dalam perkembangan terbaru dilaporkan bahwa Rusia juga membatalkan rencananya mengikuti latihan perang multilateral di Laut Hitam yang sedianya akan digelar oleh negara-negara anggota Pasukan Angkatan Laut Laut Hitam (Black Sea Naval Force /BLACKSEAFOR), yaitu Rusia, Turki, Bulgaria, Rumania, Ukraina dan Georgia. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL