Istanbul, LiputanIslam.com –  Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan dan sejawatnya dari Iran Hassan Rouhani mengadakan pertemuan tertutup di Istanbul, Turki, Rabu (13/12/2017), usai pertemuan puncak luar biasa Organisasi Kerjasama Islam (OKI) yang membahas keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pertemuan Erdogan dengan Rouhani berlangsung di Istana Yıldız Mabeyn selama sekitar 45 menit.

Secara terpisah, Erdoğan juga mengadakan pertemuan tertutup dengan rekannya dari Afghanistan Ashraf Ghani di Istana Yıldız selama hampir 30 menit.

Selanjutnya, Erdogan mengadakan pertemuan tertutup dengan Presiden Sudan Omar al-Bashirselama sekira satu jam 15 menit.

Di akhir pertemuan puncak OKI tersebut para pemimpin dunia Muslim menegaskan bahwa Al-Quds merupakan ibu kota Palestina yang berada “di bawah pendudukan”, dan mendesak AS  mundur dari proses perdamaian.

Erdoğan menyebut keputusan Trump sebagai ‘penghargaan’ kepada Israel karena “aksi terornya,” dan menegaskan kembali bahwa keputusan Trump tidak mengikat Ankara dan “tidak berlaku lagi”. Dia juga mengatakan bahwa negara-negara Muslim tidak akan pernah menyerahkan kedaulatan dan kemerdekaan Palestina.

Sementara  Rouhani mengatakan bahwa Amerika Serikat berusaha untuk “memaksimalkan kepentingan Zionis” dengan tindakan tersebut dan mengabaikan tuntutan Palestina yang sah.

Presiden Iran menegaskan bahwa AS tidak pernah menjadi mediator yang jujur ​​dalam proses perdamaian, dan meminta dunia Islam untuk bersatu melawan “rezim Zionis”.

“Beberapa negara di wilayah kita bekerja sama dengan AS dan Rezim Zionis serta berusaha menentukan nasib Palestina,” kata Rouhani yang negaranya pantang mengakui eksistensi Israel. (mm/dailysabah)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*