Doha, LiputanIslam.com –  Emir Qatar Tamim bin Hamad al-Thani menyebut negaranya semakin kuat setelah diboikot, dan siap mengatasi krisis Teluk melalui dialog tanpa dikte dan intervensi terhadap kedaulatan dan urusan internal Qatar.

Hal ini dia ungkapkan saat memimpin rapat rutin dewan menteri Qatar di Doha, Rabu (2/8/2017), sembari menyebut negaranya justru semakin kuat setelah diboikot oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Bahrain, dan Mesir sejak Juni 2017.

“Qatar bagi kami dan semua orang pada Juni 2017 berbeda dengan Qatar sebelumnya. Kita memiliki sejarah yang kita banggakan dan kami sanjung, namun apa yang terjadi pada bulan Juni 2017 telah menguatkan dan mendorong kita untuk berbuat lebih banyak demi kemaslahatan negara ini,” katanya, seperti dilansir kantor berita Qatar, QNA.

Lebih lanjut dia mengulangi apa yang pernah dia tegaskan sebelumnya pada 21 Juni lalu mengenai kesiapan Qatar berdialog dengan negara-negara Arab yang memboikotnya.

“Pemerintah Qatar siap menyelesaikan krisis Teluk melalui dialog, dan jika memang ada upaya pencapaian kesepakatan maka kesepakatan ini harus mencakup semua pihak tanpa dikte dan intervensi terhadap urusan nasional dan internal negara manapun,” katanya.

Seperti diketahui, sejak 5 Juni lalu Saudi, UEA, Bahrain dan Mesir memutus hubungan diplomatiknya dengan Qatar setelah mereka menuding Doha mensponsori terorisme, namun Doha menepis keras tuduhan ini.

Pada tanggal 22 Juni lalu empat negara itu menyodorkan 13 tuntutan, termasuk penutupan stasiun TV Al-Jazeera, tapi Qatar menolaknya mentah-mentah sembari menyebutnya “tidak realistis.” (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL