nego iran amerikaBeirut, LiputanIslam.com – Koran el-Nashra memuat artikel yang mengangkat pertanyaan mengapa Gedung Putih sedemikian bersikeras ingin mencapai kesepakatan dengan Teheran, meskipun dengan resiko berbenturan dengan Kongres?

Koran terbitan Lebanon edisi Kamis (19/3/2015) ini menyebutkan bahwa Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry ngotot ingin meraih kesepakatan dengan Teheran, sehingga seolah dinding ketidak percayaan antara Teheran dan Washington sudah jauh menipis, dan Washington seakan tidak pernah memproklamirkan Teheran sebagai “poros kejahatan” (axis of evil).

Sebagaimana direfleksikan oleh berbagai media Barat, lanjut el-Nashra, kedua pihak kini mencapai suatu titik yang langka sejak kejayaan revolusi Islam di Iran pada tahun 1979, dan perubahan yang mengarah kepada perjanjian Washington-Teheran itu terjadi tak lain karena menguatnya kedudukan Iran di tengah pergaulan internasional setelah negara republik Islam ini meraih kemajuan pesat di bidang pertahanan dan sains serta konsisten pada independensi politiknya.

Menurut el-Nashra, Kerry tahu persis bahwa kesepakatan ini merupakan sesuatu yang fenomenal dan monumental serta akan menjadi kunci penyelesaian bagi sebagian kebuntuan dalam hubungan Washington-Teheran selama ini.

Abbas Dhahir, penulis artikel tersebut, juga berpendapat bahwa dalam proses ini Teheran sendiri juga tak ingin mengabaikan begitu saja kesempatan untuk mengatasi sanksi Barat terhadap Iran demi memperbaiki kondisi perekonomiannya, apalagi hal itu juga kondusif bagi pengembangan pengaruh regional Iran yang bukan saja di Timur Tengah, melainkan juga bisa merambah ke Benua Afrika.

Dalam perundingan maraton yang sedang berjalan di Swiss kedua pihak sama-sama tidak menginginkan perundingan itu kandas. Kedua pihak mengharapkan negosiasi itu menghasilkan komitmen satu sama lain. AS berharap Iran menjamin tidak akan berusaha menjamah senjata nuklir, dan Iranpun berharap AS menjamin berakhirnya semua sanksi Barat sekaligus terhadap Iran.

El-Nashra juga menilai bahwa dengan perjanjian itu AS juga ingin mengembangkan sayap pengaruh di Timur Tengah serta menjalin perjanjian yang implementatif untuk operasi kontra-terorisme. Dalam perjanjian itu juga mengemuka masalah dukungan Iran kepada kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengannya. AS berharap Iran bersedia mengubah isu perang melawan Israel menjadi isu perang melawan terorisme, dan dengan demikian AS dapat melibatkan Iran dan para sekutunya dalam perjanjian kontra-terorisme.

Karena itu, lanjut el-Nashra, pernyataan John Kerry yang mencengangkan soal Presiden Suriah, Bashar al-Assad, juga tidak lepas dari konteks ini.

Di bagian akhir el-Nashra menyebutkan bahwa banyak hal dan kasus saling terkait satu sama lain, dan masalah Suriah dan Irak adalah bagian yang paling pokok. Barat ingin mengurai semua kebuntuan, sementara isu nuklir terlampau krusial bagi Iran, dan negara ini juga tidak ingin terburu-buru untuk menuntaskan begitu saja semua berkas perkara yang ada. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*