iran saudiBeirut, LiputanIslam.com –   Majalah Economist dalam sebuah artikelnya, Kamis (8/12/2016), menyebutkan bahwa setelah satu tahun Wakil Putera Mahkota Arab Saudi Mohammad Bin Salman mendeklarasikan diakhirinya masa “koma” kebijakan luar negeri Saudi dan dimulainya tekanan negara ini terhadap Iran, sepak terjang Saudi di Timteng justru rontok satu persatu, dari Suriah dan Irak hingga Yaman dan Lebanon, dan bahkan dalam kontroversi minyakpun Saudi juga kalah telak.

Majalah terbitan Inggris ini menyebutkan bahwa Bin Salman blak-blakan menyokong pemberontak Suriah serta mati-matian berusaha supaya di Lebanon jangan sampai orang yang dekat dengan Hizbullah terpilih sebagai presiden, sementara di Yaman dia mengobarkan perang terhadap kelompok Houthi setelah para jenderal Saudi memastikan bahwa perang ini akan segera dapat membebaskan Sanaa, ibu kota Yaman, dari pendudukan milisi Houthi (Ansarullah).

Dalam isu minyak, Saudi semula menekan Iran dengan melambungkan volume produksi minyaknya. Demi ini Saudi bahkan menolak permintaan organisasi negara-negara pengekspor minyak, OPEC, supaya menurunkannya demi mendongkrak harga minyak. Dengan cara ini anak Raja Salman ini ingin membangkrutkan ekonomi Iran yang banyak bergantung pada sektor minyak.

Economist melanjutkan bahwa di Irakpun Bin Salman juga menjalankan agenda untuk mempengaruhi kebijakan Baghdad, dan dalam rangka ini dia antara lain menunjuk duta besar Saudi untuk Irak pertama kali dalam 25 tahun terakhir.

“Namun, di akhir tahun ini, kerajaan ini menemukan dirinya mundur di semua front. Duta besarnya ditarik keluar dari Irak, kabur dari semburan caci maki para politisi Syiah yang memandang Iran,” tulis Economist.

Majalah ini melanjutkan bahwa di Suriah, pemerintah yang didukung Iran dan Suriah terus menekan kawanan bersenjata dukungan Saudi hingga kota Aleppo sudah hampir jatuh sepenuhnya ke tangan pasukan Suriah.

Sedangkan di Lebanon, Saudi juga mengerutkan pendiriannya dan menerima terpilihnya Michel Aoun yang pro-Iran sebagai presiden.

Dalam isu minyak, pada sidang OPEC belum lama ini Saudi akhirnya bersedia mengurangi banyak volume produksi minyaknya, sementara Iran bukan saja tidak mengurangi volume produksinya, tapi malah menyetujui pengembalian volume kepada level pra-sanksi.

Di Yamanpun, Ansarullah dan sekutunya bertekad untuk tidak pernah membiarkan Saudi dan sekutunya merasakan gagahnya kemenangan.

“Houthi yang menjadi musuh Saudi tampak bertekad untuk menolak Pangeran Mohammad keluar secara terhormat. Mereka terus melancarkan serangan melalui perbatasan, dan pekan lalu mereka mendeklarasikan pemerintahan barunya sendiri, bukannya setuju membentuk satu (pemerintahan) yang melibatkan presiden yang diasingkan seperti yang dikehendaki sang pangeran. ‘Yaman akan menjadi Vietnam-nya Arab Saudi’  cibir pejabat Iran. Ini merupakan pendarahan bagi wibawa militer dan diplomatik Saudi,” tulis Economist.

Majalah ini menyebutkan bahwa Saudi gagal membentuk “blok Sunni”, dan bahkan kehilangan kehilangan sebagian negara sahabat dan sekutu lamanya, terutama Mesir yang belakangan ini hubungannya dengan Suriah membaik. (mm/economist)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL