London, LiputanIslam.com –  Otoritas Yordania Jumat pekan lalu (24/2/2017) mengumumkan jet tempur F-16 milik negara ini yang terlibat dalam serangan udara ke Yaman telah jatuh di Najran, Arab Saudi.

SPA melaporkan bahwa pasukan koalisi Arab pimpinan Arab Saudi yang melancarkan serangan ke Yaman dalam statemennya menyebutkan pesawat itu jatuh akibat kerusakan teknis, dan pilotnya berhasil menyelamatkan diri dengan mengaktifkan kursi lontar dan parasut.

Namun, Rai al-Youm (RY), Selasa (28/2/2017),melaporkan bahwa jet tempur Yordania itu diyakini jatuh terkena tembakan anti serangan udara pasukan Yaman sehingga mengalami kerusakan dan pilotnyapun selamat karena jet tempur itu sudah masuk ke wilayah Saudi ketika dia mengaktifkan kursi lontar.

Menurut RY, peristiwa ini menunjukkan keterbatasan kemampuan versi jet tempur F-16 yang dijual oleh Amerika Serikat (AS) kepada pasukan negara-negara Arab, apalagi sebelumnya jet tempur jenis yang sama milik Maroko juga ditembak jatuh pasukan Ansarullah Yaman hingga pilotnya tewas pada tahun 2015.

RY menjelaskan bahwa F-16 tergolong jet tempur paling canggih di dunia sehingga menjadi andalan angkatan udara AS dan Israel. Kehebatan jet tempur ini terlihat antara lain dari kegagalan Hizbullah Lebanon menjatuhkan jet tempur ini dalam perangnya melawan Israel meskipun Hizbullah memiliki senjata anti serangan udara atau senapan anti pesawat.  Suriah juga demikian, senjata canggih anti serangan udaranya tak sanggup merontokkan jet tempur F-16 Israel yang masuk ke wilayah Suriah untuk melancarkan serangan.

Anehnya, pasukan Ansarullah yang tak memiliki senjata canggih anti serangan udara sejauh ini malah berhasil merontokkan dua unit F-16, dan 1 unit jet tempur Mirage buatan Perancis milik Uni Emirat Arab.

Terlepas dari Mirage, RY menyebutkan komentar para pakar bahwa F-16 yang dijual ke sejumlah negara Arab semisal Mesir, Maroko, dan Yordania bukanlah versi yang mutakhir. Menurut mereka, ada jenis F-16 yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan sehingga yang dimiliki oleh Yordania dan Mesir tidak menjadi ancaman bagi Israel, dan yang  dimiliki oleh Maroko tidak menjadi ancaman bagi negara-negara sekutu AS di Eropa, termasuk Purtugal dan Spanyol. Selain itu, dengan keterbatasan tersebut F-16 versi non-mutakhir itu tidak akan bisa diandalkan untuk menentukan jalannya perang di dunia Arab.

Dijelaskan bahwa F-16 versi non-mutakhir yang dijual oleh AS ke negara-negara Arab itu memiliki beberapa kelamahan antara lain berupa keterbatasan radar, kelemahan kontrol elektronik dalam pembidikan sasaran,  dan keterbatasan kapasitas tanki bahan bakar sehingga tidak bisa terbang untuk jarak lebih jauh.

Para pakar itu lantas menyebutkan bahwa jet-jet tempur F-16 yang dimiliki oleh pasukan Arab bahkan hanya memiliki 30 persen kemampuan jet tempur serupa yang ada di tangan AS sendiri dan Israel! (mm/cnn/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL