NewYork, LiputanIslam.com –   Dewan Keamanan PBB menyetujui draf resolusi usulan Rusia yang berisi perpanjangan sanksi terhadap Yaman sampai tahun 2019 tanpa menyinggung laporan PBB mengenai Iran ataupun kemungkinan dilakukannya suatu tindakan terhadap Iran.

Laporan mengenai Iran yang dibuat oleh tim pakar PBB menyebutkan bahwa Iran telah melanggar sanksi persenjataan yang diputuskan pada tahun 2015 terhadap Yaman. Mereka menyatakan bahwa rudal-rudal yang dilesatkan Ansarullah (Houthi) ke Saudi pada tahun lalu adalah buatan Iran.

Rusia telah menggunakan hak vetonya terhadap draf resolusi usulan Inggris yang menyebutkan adanya “keprihatinan lagi” terhadap “senjata-senjata asal Iran di Yaman pasca penerapan sanksi senjata  dan bahwa Teheran “tidak mematuhi” resolusi-resolusi PBB.

Dewan Keamanan PBB juga menyetujui perpanjangan masa tugas para pakarnya di Yaman.

Wakil Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia mengatakan bahwa draf resolusi usulan Inggris berbahaya bukan hanya bagi Yaman, melainkan juga memicu eskalasi di kawasan Timteng secara umum.

Dia juga mengatakan bahwa Rusia menyetujui perpanjangan sanksi terhadap Yaman dan kelayakan keberadaan para pakar internasional di Yaman namun menentang pelaksanaan perpanjangan tugas mereka “dalam suasana yang terpolitisasi.”

Nebenzia menekankan perlunya konsolidasi semua negara regional dan dunia, termasuk Iran dan Arab Saudi, untuk menangani masalah mendasar di Yaman.

Dubes Inggris untuk PBB Matthew Rycroft mengatakan bahwa resolusi yang telah diputuskan untuk Yaman sudah cukup seimbang. Dia juga menyerukan kepada semua pihak di Yaman agar menyelesaikan sengketanya secara damai.

Dia mengecam serangan rudal Ansarullah terhadap Saudi serta menuding Iran tidak mematuhi resolusi PBB yang melarang suplai senjata kepada Ansarullah.

Senada dengan ini Dubes Amerika Serikat (AS) untuk PBB Nikki Haley menuding Iran terus berusaha mengacaukan stabilitas Timteng sehingga AS akan terus berusaha menghukum Iran. Dia juga menyatakan bahwa serangan rudal Ansarullah terhadap Saudi dapat memicu konflik regional.

Yaman dilanda perang antara kelompok presiden tersingkir Abd Rabbuh Mansur Hadi yang didukung pasukan koalisi pimpian Arab Saudi di satu pihak dan gerakan Ansarullah (Houthi) yang didukung oleh Iran.

Koalisi pimpinan Saudi yang sebagian besar dianggotai oleh negara-negara Arab Teluk Persia dan didukung oleh AS dan Inggris melancarkan serangan udara ke Yaman Sejak Maret 2015 hingga menjatuhkan ribuan korban jiwa dan kerusakan yang parah di Yaman.(mm/rt/sputnik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*