NewYork, LiputanIslam.com –  Sembilan negara anggota Dewan Keamanan PBBB menggelar sidang darurat mengenai isu penggunaan senjata kimia di kota Douma, Ghouta Timur, provinsi Damaskus, Suriah, Senin (9/4/2018).

Rusia terlibat ketegangan dengan negara-negara Barat dalam sidang yang digelar atas usulan Amerika Serikat (AS), Perancis, dan Inggris ini. Dubes AS dan sejumlah negara sekutunya keluar dari ruang sidang ketika Dubes Suriah Bashar Jaafari memulai pidatonya di PBB, dan Rusia menyatakan draf resolusi terkait isu tersebut “tak dapat diterima.”

Sehari sebelumnya AS meminta Dewan Keamanan melakukan penyelidikan secara independen terkait isu tersebut, dan dalam sidang itu AS membagikan draf resolusi untuk pembentukan tim penyelidik internasional yang mirip dengan draf yang diajukan AS dan ditolak oleh Rusia pada Maret lalu.

Presiden AS Donald Trump, Senin, bersumbar bahwa akan diambil “keputusan-keputusan penting” dalam jangan jangka waktu 24 hingga 48 jam ke depan.

Draf resolusi yang diajukan kemarin mengusulkan pembentukan tim penyelidik untuk masa tugas satu tahun yang bekerjasama dengan Organisasi Larangan Senjata Kimia untuk mencari siapa pelaku serangan senjata kimia yang disangkakan itu.

Utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura melalui layar telekonferensi dalam sidang itu mengatakan bahwa pemerintah Suriah membantah tuduhan adanya penggunaan senjata kimia di Douma.

Rusia juga membantah keras tuduhan tersebut dan mengingatkan “dampak berbahaya” jika Suriah sampai mendapat serangan militer dari negara-negara Barat, terutama AS. Dubes Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia dalam sidang Dewan Keamanan mengatakan, “Kami mengimbau negara-negara Barat untuk menghindari retorika perang… Tak ada serangan kimia, dan tak ada pula bukti.”

Dia menambahkan, “Penggunaan kekuatan militer dengan dalih palsu terhadap Suriah di mana pasukan Rusia disebar atas permintaan pemerintah yang sah dapat menimbulkan dampak-dampak berbahaya.”

Dia juga menegaskan bahwa para pakar Rusia yang ada di Suriah tidak menemukan bukti apapun mengenai adanya penggunaan zat beracun sarin ataupun klorin. Menurutnya, Moskow dan Damaskus meminta Organisasi Larangan Senjata Kimia mengirim tim penyelidik ke Douma, dan keduanya siap memfasilitasi tim ini.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengingatkan bahaya provokasi dan apriori terkait isu tersebut. Sebelumnya, Trump mengatakan, “Kami akan menentukan apakah Rusia, atau Suriah, atau Iran, atau mereka semua berada di balik serangan ke Douma itu.” Trump juga mengatakan tidak tertutup kemungkinan penggunaan opsi ini, dan menyebut Putin bisa jadi bertanggungjawab atas serangan senjata kimia di Suriah. (mm/rayalyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*