suriah almoallem dan de misturaBeirut, LiputanIslam.com –   Utusan Khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Moallem di Damaskus, Kamis kemarin (17/9), untuk membahas prakarsa baru perdamaian di negara ini. Demikian dinyatakan sumber resmi Suriah, seperti dilansir Rai al-Youm.

Pihak Suriah diharapkan akan mendapat jawaban dari de Mistura atas berbagai pertanyaan yang dikemukakan Damaskus mengenai prakarsa damai. Sumber diplomatik Suriah mengatakan bahwa Damaskus menginginkan supaya pemberantasan teroris diprioritaskan dan menjadi titik sentral segala upaya politik.

Agustus lalu  Wakil Utusan PBB Ramzi Ezeddin Ramzi telah menyerahkan berkas berisikan “kesimpulan pemikiran” utusan PBB, usai mengadakan beberapa pertemuan selama satu bulan lalu dengan para wakil kubu oposisi, pemerintah, dan lembaga-lembaga sipil Suriah.
29 Juli lalu de Mistura mengajukan prakarsa baru perdamaian Suriah yang mencanangkan pembentukan  empat kelompok kerja antarkomponen Suriah guna membahas berbagai persoalan pelik, terutama penumpasan teroris, dan pembentukan tim hubungan internasional.

Kelompok-kelompok kerja yang terdiri atas para tokoh berkompeten yang dipilih pemerintah dan oposisi nantinya akan membahas empat persoalan mendasar, yaitu “keamanan bagi semua orang dan keamanan untuk proses politik termasuk pemilu dan kemungkinan adanya pemerintahan transisi, penumpasan teroris melalui jalur militer, kemungkinan gencatan senjata, dan rekonstruksi negara.”

Kedatangan de Mistura ke Damaskus kali ini adalah yang keempat kalinya. Kunjungan pertama dia lakukan menyusul gencarnya kritikan Damaskus terhadapnya setelah dia mengecam serangan pasukan udara Suriah terhadap kota Douma.

Bantah Keberadaan Tentara Rusia di Suriah

Pada kesempatan lain dalam wawancara dengan TV pemerintah Suriah, al-Moallem menepis laporan-laporan media mengenai keberadaan tentara Rusia di Suriah. Dia hanya mengatakan bahwa tidak tertutup kemungkinan Damaskus akan meminta bantuan pengiriman tentara Rusia jika dirasa perlu.

“Dewasa ini sama sekali tidak ada pertempuran bersama dengan pasukan Rusia, tapi jika hal ini kami rasa perlu maka akan mengkaji dan mengajukan permohonan yang sesuai dengan hasil kajian,” katanya, seperti dikutip Reuters dari Amman, Yordania.

Dia menambahkan bahwa tentara Suriah sampai sekarang masih dapat berperang sendiri melawan teroris, namun memerlukan persenjataan canggih.

“Dukungan Rusia kepada Suriah sejauh ini masih sebatas pemberian senjata dan pelatihan,” pungkasnya.

Pemerintah Rusia Kamis kemarin menyatakan pihaknya memberikan dukungan militer kepada Suriah demi menumpas terorisme, menjaga integritas nasional Suriah, dan mencegah terjadinya bencana fatal di seluruh kawasan Timteng.

Reuters di hari yang sama melaporkan bahwa tentara Suriah belakangan ini sudah mulai menggunakan berbagai jenis senjata mutakhir buatan Rusia untuk pertahanan udara dan darat. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL