Manama, LiputanIslam.com –  Satu lagi pemuda aktivis pro-demokrasi Bahrain meninggal dunia setelah ditembak oleh tentara dekat Manama, ibu kota negara ini, sebagai kelanjutan dari represi yang ditempuh oleh rezim al-Khalifah terhadap tuntutan demokrasi rakyat.

Mengutip keterangan sumber anonim, TV Lualua melaporkan bahwa satuan militer terselubung yang didukung oleh personil keamanan telah menyerbu desa Nuwaidrat, 10 km utara Manama, Senin pagi (20/2/2017),  dan menangkap Abdullah al-Ajouz.

Menurut sumber ini, al-Ajouz menderita beberapa luka tembak sebelum tentara meringkus dan membawanya pergi.

Beberapa jam kemudian, pejabat dari Kemendagri menelpon dan meminta ayah al-Ajouz  mendatangi kantor polisi Hoora di Manama, dan di situ kemudian kedua orang tua al-Ajouz diberitahu bahwa puteranya yang berusia 21 itu telah meninggal dunia.

Dalam foto-foto yang beredar di jejaring sosmed terlihat banyak kendaraan militer dan pasukan bersenjata berat di dekat Komplek Medis Salmaniya, tempat jenazah pemuda itu disimpan.

Orang tua korban memublikasikan foto noda darah yang ditutupi pasir oleh tentara rezim Bahrain untuk menyembunyikan bukti kejahatan dan pembunuhan di luar prosedur hukum.

Dengan kematian al-Ajouz, jumlah korban represi rezim al-Khalifah bertambah menjadi tujuh orang sejak awal tahun ini.

Sehari kemudian, unjuk rasa terjadi di desa Nuwaidrat untuk memrotes pembunuhan al-Ajouz hingga terjadi bentrokan antara massa dan pasukan rezim al-Khalifah yang menembakkan gas air mata untuk membubarkan konsentrasi massa, namun tak ada laporan mengenai jatuhnya korban ataupun penangkapan.

Unjuk rasa protes rakyat atas kejadian ini juga terjadi di desa Maamer di mana massa meneriakkan slogan-slogan anti penguasa.

Negara kecil di Teluk Persia ini hampir setiap hari dilanda unjuk rasa sejak pertengahan Februari 2011. Mereka mendesak dinasti al-Khalifahh melepaskan kekuasaan dan membiarkan pendirian sistem yang merepresentasikan seluruh rakyat Bahrain.

Namun demikian, tuntutan rakyat itu dilawan dengan kekerasan oleh rezim al-Khalifah, dan bahkan pada 14 Maret 2014 Arab Saudi dan Uni Emirat Arab mengerahkan pasukan masing-masing untuk membela rezim al-Khalifah.  (mm/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL