Kairo, LiputanIslam.com –  Seorang pejabat Kementerian Perminyakan Mesir, Rabu (12/1/2017), menyatakan dewasa ini sedang dilakukan upaya perbaikan hubungan negara ini dengan Irak, dan dengan adanya minyak Irak maka Mesir menjadi tidak membutuhkan lagi minyak Saudi Aramco milik Arab Saudi.

Pejabat yang tak disebutkan namanya itu dalam wawancara dengan Arabic Sputniknews milik Rusia menyebutkan bahwa kesepakatan yang baru dicapai antara Mesir dan Irak telah berpengaruh besar dalam proses perbaikan hubungan kedua negara.

“Sejak Saudi enggan meneken kontrak minyak dengan Mesir akibat pendirian politiknya, minyak Baghdad menjadi pengganti minyak Saudi Aramco.,” katanya.

Menurutnya, kesepakatan minyak antara Mesir dan Irak sudah diteken, tapi belum jelas kapan akan dilaksanakan.

“Kesepakatan ini merupakan pendahuluan bagi dimulainya kerjasama di semua sektor, terutama perminyakan,” lanjutnya.

Dia juga mengatakan bahwa setelah beberapa negara Arab dan Barat menyatakan bersedia membantu Mesir di sektor perminyakan, Kairo dapat membatalkan secara total kontrak minyaknya dengan perusahaan minyak nasional Saudi Aramco.

“Ini tidak akan menjadi perjanjian terakhir kalinya dengan Irak. Masih ada usulan-usulan penting yang menyusul dan dapat membantu Mesir mengatasi problematikanya di bidang penyediaan bahan energi. Banyak usulan internasional untuk kerjasama dengan Mesir di bidang ini sehingga negara inipun terpukau. Pada kesimpulannya, perselisiha dengan Saudi tak akan berpengaruh apa-apa pada Mesir,” terangnya.

Sementara itu, Dubes Irak untuk Mesir Habib al-Sadr menyatakan bahwa dalam beberapa bulan mendatang akan dilakukan upaya intensif untuk memperkuat hubungan kedua negara.

Dia mengatakan bahwa delegasi investor dan pengusaha Irak pekan depan akan berkunjung ke Kairo untuk merundingkan pembentukan dewan kerjasama kedua negara dan meneliti berbagai peluang investasi di Mesir.

“Sesuai para pejabat Baghdad dengan para pejabat Mesir, sejak beberapa hari mendatang Irak akan mengekspor minyak ke Mesir sebanyak 1 juta barel perbulan,”  tuturnya.

Akibat perselisihan kebijakan luar negeri antara Kairo dan Riyadh, Saudi Aramco yang notabene perusahaan minyak terbesar di dunia sejak Oktober 2016 berhenti mengekspor minyak ke Mesir meskipun sudah ada kontrak ekspor minyak Saudi ke Mesir selama lima tahun.

Mesir sejalan dengan Rusia dalam isu Suriah, dan enggan menyumbang pasukan militer kepada koalisi pimpinan Arab Saudi dalam perang Yaman. Hal ini menimbulkan ketegangan dalam hubungan Kairo-Riyadh sehingga para pejabat dan media kedua negara terlibat aksi saling menghujat.

Karena itu, setelah ekspor minyak Saudi Aramco ke Mesir berhenti Kairo berusaha mencari importir pengganti demi memenuhi kebutuhan minyaknya. (mm/irna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL