gampur rusia di suriahMoskow, LiputanIslam.com –  Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov menyatakan bisnis haram Turki untuk mendanai para teroris melalui perbatasannya dengan Suriah sudah jauh berkurang dan melemah akibat gempuran angkatan udara Rusia terhadap sarana-sarana infrastruktur yang diperlukan oleh para teroris.

Pernyataan itu dilontarkan  Lavrov dalam dialognya dengan sekelompok mahasiswa di Minsk, ibu kota Belarus pada kunjungan terbarunya ke negara ini.

“Kami sekarang memiliki banyak kesempatan untuk keluar dari situasi sekarang dan menerapkan solusi diplomatik,” katanya, seperti dilansir Sputnik Rabu (18/6).

Dia menjelaskan bahwa kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) mendapat asupan dari luar, terutama negara-negara jiran Irak dan Suriah, namun berkat operasi serangan udara Rusia asupan itu sekarang sudah jauh berkurang, dan kini Rusia optimis dan terus menempuh langkah ekstra hati-hati dalam upaya menyudahi kriris di Suriah.

Lebih dari lima tahun silam Amerika Serikat yang didukung Israel memimpin beberapa negara Barat dan Arab, khususnya Saudi, dalam aksi penggalangan bantuan dana, senjata dan informasi untuk semua kelompok pemberontak dan teroris demi tergulingnya pemerintah Suriah yang didukung Iran dan Rusia.

Karena itu, para ekstrimis dengan sangat mudah mengalir dari berbagai penjuru dunia, termasuk Eropa, ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, Jabhah al-Nusra, Ahrar Sham, Jaish al-Islam dan lain-lain sehingga berkobar perang hebat yang menjatuhkan ratusan ribu korban tewas, terutama di kalangan sipil, dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Rusia kemudian turun tangan membantu pasukan pemerintah Suriah, pasukan Arab Suriah (SAA) , menumpas gerombolan-gerombolan teroris yang beraksi atas nama jihad. Rusia berulang kali mendesak Turki agar menutup semua garis perbatasannya dengan Suriah dan berhenti menyokong terorisme di Suriah.

Dalam delapan bulan terakhir, dengan bantuan angkatan udara Rusia, SAA berhasil melumpuhkan kawanan teroris di banyak kawasan, dan skenario penggulingan Presiden Suriah Bashar al-Assadpun menjadi isapan jempol belaka bagi AS dan sekutunya.  Karena itu AS terpaksa menerima gencatan senjata pasukan Suriah dengan kubu-kubu pemberontak sesuai usulan Rusia dan Iran demi memulai perundingan pemerintah Suriah dengan kelompok-kelompok oposisi.

Pertukaran Jenazah dan Tawanan

Pada perkembangan terbaru yang dilaporkan IRNA, Selasa malam lalu telah terjadi pertukaran jenazah dan tawanan antara pemerintah Suriah dan kubu pemberontak dengan mediasi Komite Palang Merah Internasional di Aleppo.

Disebutkan bahwa dalam pertukaran itu kubu pemberontak menyerahkan 82 jenazah atau kerangka dan 30  tawanan kepada  pemerintah Suriah.  Puluhan kerangka itu adalah tentara dan sipil yang terbunuh dalam perang selama beberapa tahun terakhir di kota Nabil dan Zahra.

Di pihak lain, pemerintah Suriah menyerahkan 12 tawanan dan sembilan jenazah kepada kubu pemberontak. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL