Teheran, LiputanIslam.com – Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menegaskan bahwa isu Palestina merupakan isu utama dunia Islam, dan bahwa Palestina telah menjadi korban kejahatan dalam tiga bentuk yang tiada taranya dalam sejarah, yaitu pendudukan atas suatu negeri, pengusiran jutaan penduduknya, dan pembantaian terhadap mereka.

Dalam pidato saat menyambut kunjungan para peserta konferensi ke-13 Uni Parlemen Negara-negara Anggota OKI (PUIC) di Teheran, ibu kota Iran, Selasa (16/1/2018), Sayyid Khamenei mengingatkan bahwa membela Palestina adalah kewajiban seluruh umat Islam.

“Jangan sampai membayangkan tak ada peluang untuk melawan Rezim Zionis. Perjuangan melawan rezim ini akan membuahkan hasil. Sebagaimana kita lihat sekarang, Poros Resistensi mengalami perkembangan dibanding tahun-tahun silam, dan kaum Zionis sekarang terpaksa membangun dinding untuk melindungi dirinya, padahal dulu mereka meluncurkan slogan ‘Dari Nil hingga Furat’,” paparnya.

Dia menegaskan bahwa hakikat sejarah Palestina tak dapat diragukan, yaitu negeri yang membentang di antara sungai dan laut dengan ibu kota Al-Quds, sedangkan tindakan Amerika Serikat (AS) mengenai Al-Quds belakangan ini hanyalah gosip belaka sehingga tidak akan menghasilkan apa-apa.

Dia menilai negara-negara regional Timteng semisal Arab Saudi yang bekerjasama dengan AS dan Israel untuk menghadapi saudara mereka sendiri, umat Islam, telah melakukan pengkhianatan secara terbuka.

Menurutnya, jika umat Islam dengan populasi yang besar dan kekayaan alamnya yang melimpah serta posisi geografisnya yang strategis di dunia sampai bersatu maka akan dapat menjelma menjadi satu kekuatan internasional yang besar dan efektif.

“Kami bahkan mengatakan kepada negara-negara yang memusuhi kami secara terbuka bahwa kami siap bergaul dengan mereka dalam semangat persaudaraan meskipun mereka tidak memiliki kesiapan demikian,” ujarnya.

Dia menegaskan keharusan kerjasama negara-negara Islam dalam segala hal, termasuk demi mencegah terjadi pertikaian dan konflik berdarah di kawasan Islam karena semua itu tak lepas dar ulah AS dan kaum Zionis yang berusaha menciptakan lingkungan yang aman bagi Israel.

Pemimpin Besar Iran juga mengingatkan keharusan berjuang meraih kemajuan di bidang sains dan teknologi di mana negara ini telah mencetak prestasi besar melalui pengalaman yang bertumpu pada kesungguhan generasi mudahnya.

“Para pemuda Iran telah mencetak prestasi-prestasi besar di bidang kedokteran, industri nano, sel punca (stem cell), dan teknologi nuklir,” katanya.

Dia juga menyinggu isu Myanmar, Kashmir, Yaman, dan Bahrain sembari menekankan keharusan mengambil sikap bersama secara terbuka agar dapat mempengaruhi opini publik dan elit internasional.

“Jangan sampai kita membiarkan imperium media Barat yang pada prinsipnya dikelola oleh lingkaran-lingkaran Zionis memarjinalisasi dan menenggelamkan isu-isu dunia Islam melalui konpirasi bungkam,” tuturnya.

Sayyid Khamenei optimis bahwa imperium media Barat dan Zionis dapat dilawan dalam ‘perang lunak’, sebagaimana kaum Zionis juga kalah dalam perang berdarah dan agresi militernya ke Lebanon sehingga mereka terpaksa mengakui kekalahannya.

Para ketua parlemen negara-negara Islam dalam konferensi di Teheran telah membahas berbagai isu penting, termasuk kerjasama ekonomi dan perdagangan, serta mekanisme penumpasan terorisme. Mereka juga mendiskusikan pengambilan sikap terhadap campurtangan AS yang selalu menimbulkan ketegangan di dunia Islam.

Mereka juga menegaskan bahwa kota Al-Quds (Yerussalem) merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Palestina dengan semua latar belakang sejarahnya. Usai konferensi mereka mengadakan pertemuan ramah tamah dengan Ayatullah Ali Khamenei.

Konferensi ini juga dihadiri oleh delegasi Indonesia yang terdiri atas Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon dan beberapa anggota DPR lain, termasuk Nurhayati Ali Assegaf (Fraksi Demokrat), Dwi Aroem Hadiatie (Fraksi Golkar), dan Siti Hediati Soeharto (Fraksi Golkar).

Saat menghadiri konferensi Fadli Zon mengatakan bahwa Indonesia berharap negara-negara OKI dapat kompak dan satu suara dalam membela Palestina.

“Parlemen Indonesia konsisten menyuarakan imbauan agar negara-negara OKI memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel. Jika OKI kompak, itu pasti akan memberikan tekanan yang berarti untuk Israel,” ungkap Fadli.  (mm/alalam/detik)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*