dk pbbNewYork, LiputanIslam.com – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) dalam sidang terbukanyq Selasa (14/4) mengeluarkan resolusi 2216 perihal krisis Yaman.

Draf resolusi itu diajukan oleh Yordania yang mewakili negara-negara anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC), kecuali Oman, dan dari total 15 anggota DK PBB hanya Rusia yang menyatakan abstein dalam voting untuk draf tersebut.
Sebelum itu, Rusia mengajakan draf resolusi yang menyerukan gencatan senjata secepatnya dan boikot senjata untuk Yaman, namun tidak disetujui DK PBB.

“Kami menyatakan absten untuk resolusi itu karena tidak mencakup semua hal yang dirisaukan oleh masyarakat dunia,” ujar Duta Besar Rusia, Vitaly Ivanovich Churkin, sebagaimana dikutip IRNA.

Resolusi 2216 DK PBB mencantumkan nama Ahmad Shaleh, mantan ketua Garda Republik Yaman yang juga putera mantan presiden Yaman Ali Abdullah Shaleh, dan pemimpin gerakan Ansarullah (Houthi) Abdul Malik al-Houthi dalam daftar hitam dalam arti dicekal atau dilarang bepergian keluar negeri serta dibekukan asetnya.

Resolusi itu juga memuat penjatuhan sanksi senjata terhadap Yaman, terutama Ansarullah. Kemudian, tanpa menyinggung sama sekali soal adanya agresi secara terbuka Arab Saudi dan sekutunya terhadap Yaman, resolusi hanya menyerukan kepada rakyat Yaman dan Ansarullah supaya mengakhiri pertempuran.

Khusus Ansarullah, resolusi itu menyerukan supaya milisi penggerak revolusi Yaman ini mundur dari posisi-posisinya, keluar dari semua gedung dan kantor pemerintahan dan meninggalkan kota-kota yang mereka kuasai.

Pihak Saudi menganggap keluarnya resolusi tersebut sebagai lampu hijau bagi serangan udara Saudi dan sekutunya terhadap Yaman, sebab tidak menyerukan penghentian serangan yang dimulai sejak 26 Maret itu meskipun telah menjatuhkan banyak korban korban tewas dan luka di pihak rakyat sipil Yaman.

Reaksi Ansarullah

Menanggapi resolusi itu anggota Biro Politik Ansarullah Mohammad al-Bukhaiti menyatakan pihaknya menolak resolusi 2216 dan menyebutnya sebagai “keputusan zalim yang tidak akan membuat rakyat Yaman gentar dalam melanjutkan revolusi sekaligus penumpasan al-Qeada di Yaman.”

“Kami tidak perlu merespon keputusan internasional apapun yang tidak ada alasannya di lapangan,” katanya kepada al-Mayadeen.
Dia menambahkan, “Kami tidak membutuhkan senjata dari luar, dan keputusan internasional tidak berpengaruh terhadap kami dalam masalah ini.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL