SYRIA-CONFLICTNewYork, LiputanIslam.com – Memasuki bulan Desember, Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan bahwa akibat krisis anggaran bantuan untuk pengungsi Suriah di negara-negara sekitarnya pembagian voucher elektronik bantuan makanan kepada lebih dari 1,7 juta pengungsi Suriah terpaksa dihentikan.

Direktur Eksekutif WFP Ertharin Cousin Senin (1/12) mengingatkan kepada berbagai negara dan lembaga dunia bahwa macetnya program penyaluran bantuan kepada para pengungsi yang kini sangat menderita akan menimbulkan dampak yang fatal. Dia mengimbau mereka supaya segera menunjukkan komitmen keuangannya kepada WFP.

Menurut Cousin, minimnya komitmen bukan hanya akan membahayakan kesehatan para pengungsi Suriah di Jordania, Lebanon, Turki Irak dan Mesir, melainkan juga akan berdampak pada munculnya ketegangan dan gejolak di negara-negara tersebut.

“Ini akan membahayakan kesehatan dan keamanan para pengungsi itu, dan berpotensi menimbulkan ketegangan, instabilitas dan ketidak amanan lebih jauh di negara-negara sekitar yang menampung pengungsi,” ujarnya, sebagaimana dilansir UN News Centre.

Cousin menambahkan bahwa dalam kondisi keuangan yang terbaikpun para pengungsi itu masih banyak mendapat kesulitan, terutama di Lebanon dan Jordania di mana sebagian besar anak kecil pengungsi tidak memiliki pakaian musim dingin yang memadai.

WFP memerlukan dana mendesak sebesar $64 juta untuk membantu para pengungsi Suriah di negara-negara sekitarnya selama bulan Desember ini.

Begitu tersedia dana, lembaga PBB akan dapat segera memberikan lagi bantuan kepada pengungsi yang menggunakan voucher elektronik untuk belanja kebutuhan pokok di toko-toko terdekat.

Sejak menerapkan program voucher, WFP menyuntikkan dana sekitar $800 juta kepada ekonomi negara-negara tetangga Suriah yang menampung pengungsi.

Di tengah kecamuk pertempuran dan kendala akses yang terjadi sejak Suriah dilanda konflik pada 2011, WFP cukup berhasil memenuhi kebutuhan jutaan pengungsi di dalam Suriah sendiri dan lebih dari 1.8 juta pengungsi lain di Lebanon, Jordania, Turki, Irak dan Mesir, namun sekarang menghadapi masalah macetnya dana dari para donatur. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL