Prof-Madawi-Al-Rasheed- asal saudiLondon, LiputanIslam.com – Cendikiawan dan aktivis asal Arab Saudi Madawi al-Rasheed menilai agresi militer Arab Saudi ke Yaman sebagai kesempatan emas bagi Menteri Pertahanan (Menhan) Saudi, Mohammad putera Raja Salman, untuk merebut tahta di masa depan sepeninggal ayahnya.

“Menhan Saudi bertualang di Yaman demi memperkuat posisisinya,” katanya dalam wawancara dengan harian Alkhaleej Affairs, sebagai dikutip el-Watan terbitan Oman, Senin (6/4/2015).

“Tak seperti saudara sepupunya, Mohammad bin Nayef, Menhan Mohammad bin Salman tidak memiliki prestasi apapun. Serangan terhadap Yaman menjadi peluang emas baginya untuk eksis. Dewasa ini dia memerluka prestasi militer agar dapat bersaing dengan Mohammad bin Nayef. Dengan cara ini dia akan mendapatkan kedudukan sepeninggal ayahnya nanti, dan tidak akan bernasib seperti yang orang-orang lain yang terpinggirkan di antara anggota keluarga penguasa Saudi,” paparnya.

Pakar antropologi sosial ini menambahkan, “Orang-orang Arab tidak memiliki pendirian yang spesifik terkait aneka peristiwa yang ada. Di tengah kondisi demikian, Arab Saudi terhitung sebagai sumber dana bagi banyak pihak. Karena itu, banyak negara Arab, kecuali negara-negara yang masih mengutamakan independensinya dalam membuat keputusan, sengaja membuntuti Saudi demi mendapatkan bantuan.”

Mengenai koalisi pimpinan Saudi dia menilainya sangat rentan dan bisa jadi akan mencelakakan Saudi sendiri.

“Sebab, para penguasa negara-negara Arab ini umumnya tidak memiliki basis sosial dan kedudukan di tengah rakyat,” terang cendikiawan yang banyak menulis tentang Semenanjung Arab, migrasi Arab, globalisasi dan trans-nasionalisme religius dan isu gender ini.

Lebih lanjut dia mengatakan, “Negara-negara Arab Teluk, khususnya Saudi, menyokong kalangan kontra-revolusi, dan demi mempertahankan kekuasaannya ini mereka rela menghamburkan dana milyaran dolar Amerika Serikat. Sebagaimana kita saksikan, mereka merepresi segala bentuk perubahan dan gerakan demokratisasi di Arab Saudi. Karena itu, mereka gemetar ketika menyaksikan peristiwa di Mesir, Tunisia, Yaman dan Bahrain, dan lalu mengambil keputusan untuk sedapat mungkin menumpas rakyat dengan menggunakan dana dan senjatanya demi memutar mundur jarum jam.” (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL