Burj Khalifa, the tallest tower in the world, is seen lit up in blue, white and red, the colours of the French national flag, following the Paris attacks, in DubaiKairo, LiputanIslam.com – Beberapa negara Arab terlihat seakan berlomba memamerkan keberkabungan mereka atas gelombang serangan teror kelompok teroris takfiri Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Paris, ibu kota Perancis.

Tak sekedar dengan statemen, negara-negara itu juga mengungkapkan solidaritas dan duka cita mereka atas tragedi teror Paris yang menewaskan sekitar 150 orang itu dengan berbagai cara lain, termasuk dengan menyalakan lampu hias dan lampu sorot gedung dengan kombinasi warna bendera Perancis pada bangunan-bangunan yang menjadi ikon dan kebanggaan masing-masing .

Mesir, misalnya, sebagaimana dilaporkan Alarabiya, menyorotkan cahaya warna biru, putih dan merah pada bangunan purbakala Piramida dan Sphink, selain juga menyorotkan cahaya merah untuk bendera Rusia atas tragedi jatuhnya pesawat penumpang Rusia di Sinai beberapa waktu lalu.

Kuwait dan Arab Saudi juga berbuat hal serupa untuk tragedi teror Paris. Saudi menyorotkan cahaya berwarna bendera Perancis pada Kingdom Tower dan al-Faisaliyah Tower di Riyadh, ibu kota Saudi, sedangkan Kuwait pada tiga menara kebanggaannya yang menjulang setinggi 187 meter di Bandar Kuwait.

Uni Emirat Arab (UEA) juga tak mau ketinggalan. Negara federasi dari tujuh emirat yang juga kaya minyak ini menyorotkan warna cahaya yang sama pada beberapa gedung kebanggaannya termasuk gedung Hyatt Capital Gate, Hotel Emirates Palace, dan Jembatan Sheikh Zayed di Abu Dhabi, ibu kota UEA, serta Menara Burj Khalifa dan hotel supermewah Burj al-Arab di Dubai.

Pemandangan demikian menjadi fenomena tersendiri yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan itu semata-mata demi menunjukkan simpati dan solidaritas atas serangan teror kejam di sebuah negara besar yang bernama Perancis.

Hanya saja, fenomena demikian menjadi tampak berlebihan dan bahkan naif ketika hal serupa tak pernah mereka tunjukkan untuk tragedi-tragedi teror yang hampir setiap hari menerjang Irak dan Suriah. Banyak negara Arab bahkan cenderung menghindari kata “teroris” dalam menyebut gerombolan ISIS. Mereka lebih suka menggunakan kosakata lain semisal “ekstrimis”, “radikalis”, “kawanan bersenjata” atau bahkan “mujahid/jihadis”.

Parahnya lagi, ekspresi duka cita sedemikian rupa tidak mereka tunjukkan untuk Lebanon yang juga mendapat serangan teror serupa -sehari sebelum serangan di Perancis- dengan jumlah korban tewas yang juga besar, padahal Lebanon adalah sesama negara Arab dan Islam, sementara Perancis malah termasuk negara imperialis yang ikut mengacak-acak Timur Tengah bersama Amerika Serikat. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL