Teheran, LiputanIslam.com –  EIbrahim Raisi, 56 tahun, salah satu capres menonjol yang disebut-sebut sebagai “konservatif” dalam pilpres Iran menolak tuduhan bahwa dirinya melawan keterbukaan Iran di depan khalayak dunia. Tuduhan itu berasal dari kubu moderat dan reformis yang mendukung presiden petahana Hassan Rouhani.

Kepada para pendukungnya di halaman mushalla akbar Teheran, Selasa (16/5/2017), dia menegaskan, “Mereka mengatakan bahwa kami tidak ingin berinteraksi dengan dunia, semua ini dusta besar. Kami percaya kepada interaksi dengan semua negara, tapi dengan terhormat.”

Dia juga mengaku tidak menentang kesepakatan nuklir Iran dengan negara-negara besar yang telah dicapai pada tahun 2015 dengan persetujuan Pemimpin Besar Revolusi Islam Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei.

Namun demikian, tokoh berserban hitam sebagai tanda keturunan Nabi Muhammad saw ini menilai pemerintahan Rouhani masih tergolong “lemah” dalam negoasiasi dengan negara-negara besar. Menurutnya, Rouhani telah memberikan banyak konsesi tanpa memperoleh imbalan yang signifikan dan sepadan.

Dalam kampanye pemilu, Raisi bahkan menyebut pencabutan sebagian embargo ekonomi internasional hasil kesepakatan itu “cek kosong yang telah diperoleh pemerintah.”

Sebelumnya, capres Bagher Ghalibaf yang juga disebut berasal dari kubu konservatif telah mengundurkan diri demi memberikan kesempatan lebih besar bagi kemenangan Raisi dalam pilpres.

Jumat pekan lalu telah terjadi debat capres sengit antara Rouhani dan Raisi. Dan di antara enam orang yang diterima dalam seleksi capres dua orang telah mengundurkan diri. Bisa jadi orang ketiga akan mundur apabila orang keempat menyerukan pemberian suara kepada Rouhani. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL