DenHaag, LiputanIslam.com –  Rusia terus bersikeras membongkar kepalsuan berita yang beredar luas untuk memojokkan Suriah, Rusia, dan Iran, yaitu bahwa pada 7 April lalu telah terjadi serangan senjata kimia tentara Suriah terhadap warga kota Douma, Ghouta Timur.

Tak tanggung-tanggung, para diplomat Rusia menghadirkan belasan saksi mata warga Douma, termasuk bocah Hassan Diab,  11 tahun dan ayahnya, kepada pengawas senjata kimia dunia dalam upaya untuk membuktikan kepasuan berita tersebut.

Pada konferensi pers bersama pejabat Suriah di Organisasi untuk Larangan Senjata Kimia (OPCW), DenHaag, Belanda, Kamis (26/4/2018), para diplomat Rusia mengecam kelompok kemanusiaan White Helmets karena sengaja telah membesut “video yang dipentaskan” agar dianggap sebagai bukti adanya serangan senjata kimia oleh tentara Suriah pada 7 April lalu.

Suriah sendiri menyatakan bahwa para saksi itu tidak melihat bukti terjadinya serangan kimia saat itu.

Konferensi pers di Belanda tersebut diboikot oleh negara-negara yang terpojok dalam kasus ini, yaitu Inggris, Perancis dan Amerika Serikat yang dengan sewenang-wenang telah menyerang Suriah hanya dengan modal alasan berupa video yang ternyata hoax itu. Tiga negara ini bahkan menyebut konferensi itu sebagai “penyamaran tak senonoh (obscene masquerade) “.

Tak kurang dari 17 saksi mata Suriah telah diboyong ke Den Haag oleh Rusia, dan sebagian di antaranya mengatakan “tak ada gejala” serangan kimia dan “semua orang baik-baik saja”.

Wakil Rusia untuk OPCW Alexander Shulgin mengatakan dia ingin menyodorkan “bukti” dan membantah tuduhan bahwa pemerintah Suriah telah melakukan serangan kimia.

Para saksi, termasuk para dokter rumah sakit di Douma, memastikan tak ada aroma bahan kimia dan bahwa orang-orang yang tersedak hanyalah karena menghirup asap dan debu dari pemboman.

Bocah Hassan Diab, yang terlihat dalam video penyiraman, mengaku telah diberitahu agar pergi ke rumah sakit.

“Kami berada di ruang bawah tanah dan kami mendengar orang-orang berteriak bahwa kami harus pergi ke rumah sakit. Ketika kami berada di rumah sakit – kami pergi ke sana melalui terowongan – mereka mulai mengguyurkan air ke saya, air dingin,” ujar Diab.

Ayah Diab juga turut memberikan kesaksian dengan mengatakan, “Istri saya menjelaskan bahwa anak-anak dibawa ke rumah sakit tanpa meminta izin dari orang tua mereka, kemudian kami menemukan ini palsu. Sama sekali tidak ada bukti senjata kimia dan anggota keluarga saya merasa baik.”

Seminggu setelah beredar laporan mengenai peristiwa itu, Inggris, AS dan Prancis melancarkan serangan udara bersama ke tiga lokasi yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia.

Wakil Inggris untuk OPCW Peter Wilson  berkomentar singkat di markas besar organisasi di Den Haag dengan menyebut konferensi pers itu sebagai atraksi (stunt).

“OPCW bukan teater. Keputusan Rusia untuk menyalahgunakannya adalah upaya lain Rusia untuk merusak pekerjaan OPCW,” kata duta besar Inggris,.

Senada dengan ini, Dubes Prancis untuk Belanda, Philippe Lalliot, berkomentar, “Penyamaran tidak senonoh ini tidak menjadi kejutan dari pemerintah Suriah, yang telah membantai dan menyerang rakyatnya sendiri selama tujuh tahun terakhir.”

Shulgin sendiri menyebut negara-negara penyerang Suriah itu sama-sama “takut melihat kebenaran di depan wajah, mereka takut untuk melihat bocah Hassan di depan mata”, dan mereka merasa “tidak ada yang lebih buruk daripada kebenaran”.

Dia menambahkan bahwa AS dan Inggris “mengobral tuduhan tak berdasar” kecuali pada “beberapa logika yang tidak masuk akal dan menggunakan jejaring sosial serta orang-orang yang eksis bukan sebagai sumber”.

“(Sedangkan sekarang) Anda melihat orang-orang yang nyata-nyata petugas medis, dokter, profesional, serta pasien yang ada di film itu, dan mereka memberi tahu Anda kisah nyata tentang apa yang sebenarnya terjadi,” ungkap Shulgin.

Shulgin meminta kepada OPCW supaya juga mencermati temuan-temuan berupa beberapa laboratorium kimia di Douma.

(mm/rt/skynews/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*