saudi-dan-turkiLondon, LiputanIslam.com –   Kerajaan Arab Saudi kecewa berat menyaksikan perubahan kontras Ankara dari koordinasi dengan Riyadh menjadi koordinasi dengan Teheran dan Moskow terkait dengan krisis Suriah dan berbagai isu Timteng lainnya.

Seperti dikutip al-Alam, Minggu (25/12/2016), media online Rai al-Youm yang berbasis di London menyebutkan bahwa perubahan sikap Turki itu membuat Saudi mengalami kondisi blunder sehingga harus “berhati-hati dan tenang” dalam membuat statemen mengenai Suriah demi menghindari terjadinya “kejutan-kejutan” susulan.

Saudi tak menduga Turki terlibat dalam pertemuan dengan Iran dan Rusia yang telah menghasilkan keputusan yang sangat berpengaruh dalam isu Suriah Selasa pekan lalu. Kejutan ini terjadi di saat Saudi sangat berharap Turki bisa menggantikan Mesir yang sudah tak patuh lagi kepada Saudi. (Masa Bulan Madu Berakhir, Mesir Tak Sudi Jadi Kacung Saudi)

Saudi selama ini ingin Turki bisa menjadi alat militer untuk kebijakan Riyadh memerangi Presiden Suriah Bashar al-Asad dan membendung “ambisi” Iran di Suriah, terutama ketika misi militer AS di Timteng menyurut bersamaan dengan membengkaknya pengaruh Rusia di Timteng. Sedemikian besar keinginan itu sehingga Riyadh bahkan sempat berusaha melibatkan Turki dalam serangan ke Yaman.

Namun demikian, menurut Rai al-Youm, beberapa faktor berupa perkembangan situasi militer, keputusan tegas Rusia untuk menuntaskan kemelut Suriah, agenda AS yang memungkinankan adanya “negara Kurdi” di Suriah, dan berubahnya ISIS menjadi musuh Turki membuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terpaksa banting setir dalam menjalankan agenda politik dan militernya hingga terjebak masuk ke jalur aliansi Rusia yang menghendaki bertahannya pemerintahan Bashar al-Assad. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL