TelAviv, LiputanIslam.com –  Begin–Sadat Center for Strategic Studies (BESA Center) yang disebut-sebut sebagai lembaga think tank independen dan non-partisan di Israel membuat laporan analisis mengenai pencabutan larangan bagi kaum perempuan mengemudi mobil di Arab Saudi.

Seperti dilansir FNA Rabu (4/10/2017) lembaga ini menilai kebijakan baru Saudi itu bisa jadi merupakan penjajakan kemampuan Putera Mahkota Saudi Mohammad Bin Salman dalam reformasi ekonomi dan sosial di tengah arus penentangan dari kalangan konservatif.

BESA Center juga menyebut tindakan ini juga ditujukan untuk mengalihkan perhatian orang dari kecaman internasional terhadap agresi Saudi terhadap Yaman, dan dari tuduhan berbagai kelompok peduli HAM, termasuk mengenai sektarianisme para agamawan Saudi dan diskriminasinya terhadap non-Muslim.

Di bagian lain laporannya lembaga ini juga menyinggung reaksi para netizen terhadap kebijakan baru Saudi serta sikap keras para petinggi Saudi terhadap warga Muslim Syiah di negara ini.

“Saudi dengan tafsirannya sendiri (Wahabisme/Salafisme) tentang Islam memandang Muslim Syiah sebagai murtad dan pembangkang, dan membuat  umat Islam menjauhi umat non-Muslim,” ungkap BESA Center.

Lembaga ini melanjutkan bahwa karena itu selama empat dekade terakhir Kerajaan Saudi telah menghamburkan dana sekira 100 miliar USD untuk propaganda Wahabisme, penggalangan posisi Saudi sebagai pemimpin Dunia Islam, dan perlawanan terhadap revolusi Islam Iran 1979 yang telah menumbangkan dinasti Pahlevi yang sebelumnya telah menjadi mercusuar pengaruh Amerika Serikat di Timteng. Dalam rangka ini Saudi berusaha memasyarakatkan perilaku konservatif dan intoleran di tengah masyarakat Muslim di berbagai negara semisal Indonesia dan Malaysia. (mm/fna)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL