israel BESA efraim inbarNazareth, LiputanIslam.com – Pusat Begin-Sadat untuk Kajian Strategi (Begin-Sadat Center for Strategic Studies/BESA) dalam hasil kajiannya yang diajukan oleh Prof. Efraim Inbar menyebutkan bahwa “Arab Spring” dan perkembangan teknologi Iran telah menciptakan situasi keamanan, politik dan sosial yang paling berbahaya bagi Israel sejak berakhirnya Perang Dingin.

Inbar yang juga menjabat direktur BESA memandang pengaruh Israel surut menyusul perkembangan situasi kawasan Timur Tengah, demikian pula obsesinya untuk terlibat dalam konstalasi politik regional sehingga apa yang dapat ia lakukan hanyalah “membela diri sebaik mungkin”.

“Israel sejak awal sudah waswas di depan gejolak situasi negara-negara Arab. Asumsi sebagian besar elit politik Israel ialah bahwa kebangkitan para Islamis, iklim kebebasan baru yang tersedia bagi para radikalis, dan berubahnya peranan Amerika Serikat di kawasan menimbulkan dampak negatif bagi keamanan Israel,” ungkap Inbar, sebagaimana dikutip Rai al-Youm, Rabu (11/3/2015).

Menurutnya, tak seperti negara-negara lain, Israel sejak awal tidak menemukan peluang apapun untuk mendapatkan keuntungan dari Arab Spring. Ketertekanan Israel pertama kalinya pasca tergulingnya presiden Hosni Mubarak di Mesir terlihat antara lain dari peringatan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bahwa revolusi-revolusi Arab, sebagaimana revolusi Iran pada tahun 1979, telah memicu gerakan-gerakan Islam dan radikalisme serta bermuara pada negara-negara yang berpendirian anti Barat dan terlebih lagi bermusuhan terhadap Israel.

Inbar juga menyebutkan bahwa dewasa ini program nuklir Iran menjadi isu yang paling dominan dalam polemik keamanan di Israel. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*