Ankara, LiputanIslam.com – Presiden Iran Hassan Rouhani mengapresiasi resistensi Turki terhadap unilateralisme Amerika Serikat (AS) dan menyebut tindakan AS terhadap Iran sebagai aksi teror karena mereka mengintimidasi perusahaan-perusahaan lain yang terlibat perdagangan bebas dengan Iran.

Rouhani menegaskan hal tersebut pada konferensi pers bersama dengan sejawat Turki-nya, Recep Tayyip Erdogan, di Ankara, Kamis (20/12/2018), usai seremoni penandatanganan dokumen kerjasama bilateral di akhir pertemuan Dewan Tinggi Hubungan Strategis kedua negara.

Rouhani menyebutkan bahwa pertemuan dewan ini adalah yang kelima kalinya, dan diadakan di hadapan para pejabat dan menteri dari kedua belah pihak di mana keputusan yang baik telah diambil di bidang pengembangan hubungan ekonomi dan perdagangan.

“Hubungan kedua negara didasarkan pada hubungan agama, budaya, kepentingan bersama, serta pengembangan hubungan bilateral, dan negara manapun tak dapat mengusik hubungan persahabatan kedua negara,” katanya.

Rouhani mengapresiasi resistensi pemerintah Turki terhadap unilateralisme Amerika Serikat (AS), dan menegaskan bahwa tindakan Amerika terhadap Iran “100 persen tindakan teror karena mengintimidasi negara dan perusahaan lain serta menakuti mereka terhadap perdagangan bebas dengan Iran” sehingga “bertentangan dengan resolusi-resolusi internasional, sementara resolusi 2231 PBB menyerukan kepada semua negara agar mendukung kesepakatan nuklir dan menciptakan iklim perdagangan yang sesuai dengan Iran.”

Presiden Iran mengingatkan, “Di dunia hanya ada sejumlah kecil negara yang sejalan dengan gagasan AS dan melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB, tapi kami percaya bahwa era arogansi sudah berakhir, dan bangsa-bangsa regional membuat keputusan mereka berdasarkan kepentingan bersama.”

Dilaporkan bahwa Iran danTurki – bersama Rusia- sebagai mediator proses perdamaian di Suriah, menegaskan kembali komitmen mereka untuk melindungi kedaulatan, integritas teritorial, dan kesatuan Suriah.

Keduanya memuji pencapaian proses perdamaian yang telah berlangsung antara pihak-pihak yang berseteru di Suriah di Astana, Kazakhstan, sejak Januari 2017, dan menekankan bahwa perundingan harus dilanjutkan secara pararel dengan operasi kontra-terorisme dalam upaya menemukan solusi damai untuk krisis Suriah.

Mengenai Yaman, Iran dan Turki sepakat untuk memperkuat kerjasamanya untuk mengukuhkan perdamaian dan stabilitas serta mendukung perundingan antarkomponen Yaman dan pembukaan kesempatan untuk penyaluran bantuan kemanusiaan kepada rakyat Yaman. (mm/alalam/presstv)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*