US report raps Israel for using exaggerated force against PalestiniansBaitul Maqdis, LiputanIslam.com – Tentara Israel melarang warga Palestina usia di bawah 50 tahun masuk ke Masjid al-Aqsa, pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan cemas atas meningkatnya ketegangan di Baitul Maqdis (Jerussalem), sementara bentrokan antara warga Palestina dan kaum Zionis berlanjut menyusul adanya seruan “hari amarah” dari kelompok-kelompok Palestina.

Sebagaimana dilaporkan Falastin al-Youm, Jumat kemarin (31/10) terjadi bentrokan sengit antara warga Palestina dan kaum Zionis di sekitar Masjid al-Aqsa menyusul penutupan semua pintu komplek masjid ini oleh pasukan Zionis. Belum ada laporan mengenai korban yang mungkin jatuh dalam bentrokan tersebut.

Menurut Reuters, aparat keamanan Israel hanya mengizinkan warga Palestina yang berusia 50 tahun ke atas masuk ke Masjid al-Aqsa untuk mendirikan shalat Jumat.

Berbagai media Arab dan Barat melaporkan bahwa bentrokan sengit terjadi usai shalat Jumat menyusul adanya seruan dari berbagai kelompok Palestina supaya warga Palestina menggelar aksi “hari amarah” pada hari Jumat.

Kamis lalu pasukan Israel sempat membuka pintu-pintu gerbang Masjid al-Aqsha, namun kembali menutupnya pada Jumat pagi sembari menerapkan peraturan yang hanya membolehkan masuk warga Palestina yang berusia 50 tahun ke atas.

Ketegangan di Baitul Maqdis meningkat menyusul peristiwa penembakan warga Palestina terhadap seorang rabi Yahudi ekstrim Yehuda Glick di komplek Masjid al-Aqsa. Glick aktivis yang gigih berkampanye Judaisasi Baitul Maqdis dan tergolong aktivis Zionis yang, menurut media Barat sendiri, tangannya berlumuran darah banyak umat Islam dan Kristen Palestina.

Peristiwa itu disusul dengan pembunuhan pasukan Israel terhadap warga Palestina Moataz Hijazi, 32 tahun, yang dituduh sebagai pelaku penembakan Glick.

Menurut beberapa media Palestina, jenazah Hijazi terjatuh di atas sebuah bangunan dan sempat terbiarkan selama beberapa jam karena aparat keamanan memblokir lokasi dan melarang warga Palestina mendekat.

Peristiwa ini menambah kemarahan warga Palestina yang sejak awal sudah digusarkan oleh penutupan Masjid al-Aqsa sehingga berkumandang seruan intifada dari berbagai kelompok pejuang Palestina. Pemerintah otonomi Palestina bahkan menganggap aksi Israel itu tak ubahnya dengan pernyataan perang terhadap bangsa Palestina.

Penutupan itu merupakan tindakan Israel yang pertama kalinya dalam beberapa kurun waktu terakhir sehingga berbagai kalangan, termasuk Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry, Kamis lalu (30/10) turut menyatakan prihatin dan khawatir terhadap perkembangan situasi di Baitul Maqdis.

“Sangat mendesak sekali bagi semua pihak untuk berusaha menahan diri, menghindari aksi dan retorika provokatif serta menjaga status quo pada Haram al-Sharif (tanah suci Masjid al-Aqsa), baik dalam tutur kata maupun dalam praktik,” ujarnya, sebagaimana dikutip Reuters. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL