tentara-irak-dan-senjata-isisLondon, LiputanIslam.com –  Hasil penelitian kelompok riset Inggris di beberapa kawasan Irak yang sudah dibebaskan dari pendudukan ISIS, termasuk provinsi Nineveh, memperlihatkan bagaimana kelompok teroris besar pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi ini mendapatkan senjata dari negara-negara lain.

Sebagaimana dilaporkan BBC, Senin (21/11/2016), sebuah tim kecil dari Conflict Armament Reserch (CAR) melakukan penelitian itu ketika pasukan pemerintah Irak yang didukung pasukan Kurdi Peshmerga dan relawan Irak al-Hashd al-Shaabi bergerak maju menuju kota Mosul di Irak utara.

Tim pimpinan pimpinan James Bevan itu meneliti dan mencari barang-barang bukti dengan hanya membawa notebook dan kamera dengan tujuan semata-mata mengetahui proses jatuhnya senjata ke “tangan yang salah”.

“Saat ini masyarakat internasional buta terhadap fakta bahwa senjata sedang dialihkan ke daerah-daerah terdampak konflik,” ujar Bevan.

Penyelidikan dilakukan di distrik Qaraqoush yang berhasil dibebaskan belum lama ini. Di salah satu rumah yang sudah ditinggal penghuninya, mereka menemukan kotak amunisi kosong, sebuah barang bukti yang dinilai paling berguna karena di situ tercetak nomor seri dan nomor batch.

Mereka juga menemukan di dalam sebuah gereja bagian-bagian roket, bahan peledak dan kertas catatan petunjuk pembuatan bom.

Data-data yang berhasil dihimpun CAR menunjukkan bahwa mereka mendapat bahan senjata rakitan dan bahan peledak dari negara-negara lain, terutama Turki.  Dia mencontohkan temuan kantung-kantung berisikan bahan kimia yang tidak mungkin bisa di dapat kecuali di pasar Turki.

“Ketika kita melihat senjata rakitan dan bahan peledak buatan sendiri, kita tahu mereka membeli dalam jumlah besar dan mereka membeli terutama di pasar Turki… Jaringan pengadaan mereka menjangkau ke Turki selatan dan mereka jelas memiliki serangkaian hubungan yang sangat kuat dengan distributor yang sangat besar,” papar Bevan.

Dia menjelaskan bahwa dalam beberapa kasus  sebanyak 3000-5000 kantung telah dibeli dengan nomor lot yang sama.

“Seseorang sudah naik dan membeli setengah saham dari pabrik,” lanjutnya.

Setelah menganalisa data-data yang tersedia, tim ini menghasilkan kesimpulan pada tahap-tahap awal ISIS memang mendapatkan banyak senjatanya di lapangan di kawasan yang jatuh ke tangan mereka ketika mereka berhasil mendesak pasukan pemerintah di Suriah dan Irak. Tapi sejak akhir-akhir 2015 ketika mereka mulai terdesak dalam perang, mereka mengakses sumber lain dalam suplai senjata.

Dari kode-kode yang ada pada kotak-kotak amunisi diketahui bahwa amunisi itu dibuat di negara-negara  Eropa Timur, dan selanjutnya diketahui bahwa amunisi itu dijual secara legal kepada Amerika Serikat dan Arab Saudi untuk kemudian diserahkan kepada kelompok-kelompok pemberontak Suriah melalui wilayah Turki untuk memerangi pemerintah Suriah, tapi ujung-ujungnya juga digunakan untuk memerangi pasukan Irak di Tikrit, Ramadi, Fallujah dan Mosul di Irak. (mm/bbc)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL