Paris, LiputanIslam.com –  Kepala dinas rahasia Perancis Bernard Bajolet dalam perbincangan dengan ikatan jurnalis diplomatik telah menyebutkan beberapa cerita mengenai dirinya dan tiga pemimpin yang hingga kini masih berkuasa, sebagaimana dilansir saluran TV Aljazeera, Selasa (26/9/2018).

Dalam perbincangan saat makan siang bersama para wartawan Bajolet telah berbicara mengenai bukunya yang akan segera terbit dengan judul “Le soleil ne se lève plus à l’Est” (Mentari Tak Lagi Terbit Di Timur) Bajolet yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Perancis untuk Aljazair, Suriah, Irak, dan Afghanistan itu telah menyampaikan beberapa cerita menarik, namun dia meminta sebagian diantaranya tidak dipublikasi.

Cerita itu antara lain mengenai Presiden Aljazair Abdelaziz Bouteflika, Presiden Suriah Bashar Assad, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Mengenai Assad dia mengaku sempat berpraduga buruk terhadapnya, karena menurutnya, Assad bukanlah sosok yang memiliki ambisi politik.

Dia menceritakan bahwa dulu salah seorang wakilnya di Damaskus pernah mengirim surat elektronik kepadanya berisi keterangan mengenai kemungkinan Bashar akan menggantikan kakaknya, Bassel Assad, yang meninggal pada tahun 1994, dan dengan demikian dia menjadi calon kuat pengganti ayahnya, Hafez Assad.

Tapi Bajolet kemudian menyanggah hal itu dengan mengatakan, “Saya kira asumsi ini tidak benar, sebab pemuda yang terkucil ini tidak peduli apapun selain kedokteran.”

Bajolet juga mengaku tahu banyak tentang Bashar. Menurutnya, Bashar pernah ditanya kepeduliannya kepada politik lalu memberinya jawaban negatif. Dia hanya mementingkan kedokteran, dan berharap diterima di salah salah satu universitas Perancis, namun Hafez tidak mengizinkannya kuliah di Paris, dan ketika dia diterima di sebuah universitas di kota Lyon Hafez ternyata tetap tidak mengizinkannya, sehingga kemudian diketahui bahwa larangan itu berlaku untuk seluruh wilayah Perancis.

“Ketika dia (Bashar) menjadi presiden, saya berkata dalam hati, ‘Pemuda ini sangat terdidik dan berperangai lembut. Dengan pendidikannya yang tinggi dia tidak dapat berkelanjutan memimpin Suriah,’” ujarnya.

Mengenai Trump dia mengisahan bahwa ketika Trump terpilih sebagai presiden AS pada November 2016 François Hollande yang saat itu masih menjabat sebagai presiden Perancis telah menghubungi Trump untuk menyampaikan ucapan selamat. Pada kesempatan itulah Trump tiba-tiba berseru, “Perjanjian nuklir dengan Iran itu bodoh!” Hollande lantas balik berseru, “Kalau begitu saya bodoh!”

Mengomentari peristiwa ini Bajolet bertutur, “Sebenarnya, pernyataan Trump itu tak ada artinya, karena akibatnya dunia sekarang mengalami keruntuhan beberapa hubungan internaisonal, dan ini sangat memprihatinkan.” (mm/aljazeera)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*