ARCHIV - Der syrische Präsident Baschar al-Assad hebt in Damaskus, Syrien, grüßend die Hand (Archivfoto vom 15.08.2006). Der seit dem Jahr 2000 herrschende Baschar al-Assad versprach nach Amtsantritt wirtschaftliche Reformen. Er und seine in London aufgewachsene Frau Asma al-Assad galten vielen Syrern als Hoffnungsträger. Doch wie sein Vater lässt Baschar jede oppositionelle Strömung mit Gewalt unterdrücken. Foto: Youssef Badawi (zu dpa "Die Assads - Diktatorendynastie in Syrien" vom 26.04.2011)Damaskus, LiputanIslam.com – Presiden Suriah Bashar al-Assad memastikan perang yang berkobar di negaranya sudah bergeser ke posisi yang sangat menguntungkan pasukan pemerintah dalam menumpas militan pemberontak yang disponsori oleh kekuatan asing.

Dalam pidato di depan para staf dan mahasiswa universitas di Damaskus, Minggu (13/04/2014), Assad mengatakan pasukan pemerintah masih terus meraih kemajuan dalam memerangi militan takfiri di negaranya.  Dia menambahkan bahwa dewasa ini juga terus berkembang kesadaran publik mengenai tujuan-tujuan yang sesungguhnya di balik agresi terhadap Suriah.

Statamen demikian dikemukakan Presiden Assad ketika pasukan pemerintah di medan pertempuran telah berhasil merebut kembali banyak area strategis dari tangan kaum militan di berbagai wilayah Suriah dalam satu bulan terakhir.

Sabtu lalu pasukan Suriah juga telah menguasai beberapa kawasan lagi di sekitar Damaskus dari tangan militan. Di kota al-Mleiha, misalnya, tentara Suriah telah menghancurkan tempat-tempat persembunyian gerilyawan di dekat gerbang utara kota, membunuh sejumlah militan, dan mengungkap jaringan luas terowongan bawah tanah yang digunakan para teroris untuk pergerakan senjata dan amunisi.

Di wilayah Barat Suriah, pasukan negara ini berhasil melancarkan serangan masif terhadap gerilyawan di kota Dara dan kawasan sekitar kota Homs.

Dalam perkembangan terbaru, gempuran tentara Suriah di kawasan perbukitan timur kota Rankous yang menghadap ke perbatasan Lebanon telah membuat sejumlah militan tewas dan sisanya kabur ke arah kota Asal Alward, kawasan Zabdani serta sebuah desa yang terletak di wilayah Lebanon, al-Tufail. Dalam operasi itu tentara Suriah berhasil menguasai perbukitan al-Qalamoun yang menghadap ke kawasan Assal Alward dan Hush Arab, dan di situ pula terdapat jalur-jalur ilegal menuju kawasan Lebanon.

Suriah dilanda aksi pemberontakan berdarah sejak Maret 2011. Pemberontakan berlangsung luas dan sengit karena disponsori oleh Barat dan sejumlah negara sekutunya di kawasan Timur Tengah, terutama Qatar, Arab Saudi dan Turki. Sejauh ini dilaporkan bahwa korban tewas akibat kekerasan telah mencapai lebih dari 150,000 orang, sementara jutaan penduduk terpaksa mengungsi. (mm/presstv/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL