Luxembourg, LiputanIslam.com –  Negara-negara Barat mulai bersikap realistis terkait dengan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Hal ini terungkap dalam pernyataan Menlu Perancis Jean Marc Ayrault  dan sejawatnya dari Jerman Sigmar Gabriel setelah keduanya tiba di Luxembourg, Senin (3/4/2017).

Ayrault mengakui bahwa tuntutan agar al-Assad mundur dari kursi kepresidenan sebagai prasyarat dalam perundingan mengenai dimulainya babak transisi Suriah tidak sesuai dengan “spirit resolusi 2245 Dewan Keamanan PBB.”

Dia menjelaskan bahwa keputusan yang ditetapkan Dewan Keamanan pada Desember 2015 ini mengukuhkan pelaksanaan perundingan intra-Suriah di bawah pengawasan PBB serta menekankan bahwa tujuan perundingan ini ialah mewujudkan transisi politik dan pelaksanaan pemilu pasca amandemen konstitusi.

Dia juga menyatakan bahwa di akhir proses politik ini akan mengemuka masalah “pembangunan masa depan Suriah yang damai, membangun diri lagi, dan memungkinkan kepulangan para pengungsi.”

Namun demikian, Menlu Perancis juga mengatakan bahwa negaranya tak dapat membayangkan “barang sesaat” bahwa “Suriah ini akan diperintah oleh Bashar al-Assad,” yang menurutnya, berkemungkinan bertanggungjawab atas terbunuhnya 300,000 warga Suriah, penangkapan dan penyiksaan ribuan orang, dan penghancuran negaranya.

Senada dengan ini Menlu Jerman Sigmar Gabriel menyatakan bahwa Amerika Serikat (AS) juga sudah tidak lagi mengutamakan target penggulingan al-Assad. Menurutnya, hal ini menunjukkan sikap realitis yang dapat memudahkan perundingan.

Dia menambahkan bahwa tidak sepatutnya masalah kedudukan al-Assad dikemukakan pada awal perundingan karena dapat memacetkan proses secara keseluruhan.

Dia juga menegaskan bahwa orang-orang Suriah sendirilah yang pada akhirnya harus menentukan siapa yang menjadi presiden dan bagaimana pemerintahan akan dibentuk. Namun, dia juga mengatakan, “Satu hal yang tak boleh terjadi ialah kebertahanan seorang diktator yang telah melakukan kejahatan-kejahatan mengerikan dengan tenang tanpa diganggu oleh siapun selamanya.”

Seperti diketahui, AS dan sejumlah negara Eropa bersama beberapa negara Arab Teluk Persia merupakan kubu yang mensponsori pemberontakan dan terorisme di Suriah.

Mereka semula bersumpah untuk menggulingkan pemerintahan al-Assad  namun sumpah itu tak dapat mereka penuhi setelah al-Assad dibela oleh kubu lawan mereka, Rusia, Iran, dan Hizbullah Lebanon. Kegagalan ini membuat kubu Barat berubah pendirian menjadi lebih kompromitis dan realitis. (mm/rt)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL