Washington, LiputanIslam.com –  Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menyatakan negaranya tidak memerlukan penyelidikan PBB atau internasional terhadap pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi karena “sistem hukum yang kompeten” dapat menangani masalah ini.

Kepada program TV AS “Face the Nation”, Ahad (11/2/2019), dia mengatakan bahwa pembunuhan jurnalis di konsulat Saudi di Turki pada 2 Oktober itu merupakan “tragedi besar”, namun dia membantah bahwa dilakukan dengan persetujuan oleh pemimpin Saudi, yakni penguasa kerajaan secara de facto, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).

Badan-badan intelijen AS berkesimpulan bahwa pembunuhan itu hampir pasti membutuhkan persetujuan MBS. Pada Desember 2019, para senator AS mendukung kecurigaan bahwa MBS memerintahkan pembunuhan Khashoggi.

“Putra Mahkota tidak ada hubungannya dengan ini. Tidak ada perintah yang diberikan untuk membunuh Jamal Khashoggi, dan seluruh orang di negara ini terkejut atasnya… Itu adalah kesalahan. Itu dilakukan oleh para pejabat pemerintah Saudi yang bertindak di luar lingkup wewenang mereka. Raja memerintahkan penyelidikan,” ujar al-Jubeir.

Mengenai jenazah Khashoggi yang dikabarkan telah dimutilasi dan dilenyapkan dengan zat kimia pelarut, al-Jubeir mengatakan, “Kami tidak tahu. Kami masih menyelidiki. Kami sekarang memiliki beberapa kemungkinan dan bertanya kepada mereka apa yang mereka (para tersangka) lakukan terhadap jenazah itu.”

11 tersangka telah didakwa dan diproses di pengadilan Arab Saudi, dan lima lainnya menghadapi hukuman tuntutan mati, namun prosesnya tidak atau belum dipublikasikan.

Pelapor khusus PBB untuk eksekusi ekstra-yudisial, Agnes Callamard, telah melakukan penyelidikan selama seminggu di Turki mengenai pembunuhan Khashoggi, dan dalam temuan awalnya berkesimpulan bahwa peristiwa itu merupakan “pembunuhan brutal dan terencana, yang direncanakan dan dilakukan oleh pejabat negara Saudi Saudi “.

Callamard yang akan menyerahkan laporan finalnya pada Juni mendatang juga menegaskan bahwa Saudi “secara serius merusak” upaya Turki untuk menyelidiki pembunuhan Khashoggi, dan karena itu dia meminta akses ke Arab Saudi serta mengaku prihatin atas perlakuan yang tidak fair di Saudi terhadap orang-orang yang diproses hukum dalam kasus ini. (mm/aljazeera/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*