Riyadh, LiputanIslam.com – Pemerintah Arab Saudi, Kamis (9/1/2017), menyerukan kepada warga negaranya agar “secepatnya” meninggalkan Lebanon, dan atau tidak pergi ke negara ini.  Seruan serupa juga dinyatakan oleh Uni Emirat Arab (UEA) dan Kuwait setelah Bahrain dan Amerika Serikat (AS) juga menyerukan demikian.

Peringatan ini keluar setelah Saad Hariri Sabtu lalu dari Riyadh, ibu kota Arab Saudi, menyatakan mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri Lebanon sembari menyudutkan Iran dan Hizbullah yang dimusuhi oleh Saudi.

Sejauh ini belum ada pernyataan resmi mengena sebab keluarnya seruan negara-negara tersebut, sementara Hariri tak jelas berada di mana sehingga media yang dekat dengan Hizbullah menyebutkan kemungkinan dia ditahan di Arab Saudi.

Sekjen Hizbullah Sayyid Hassan Nasrallah Ahad lalu menyebut mundurnya Hariri sebagai “keputusan Saudi” dan menyoal berada di mana dia sekarang, apakah dia ditahan, dan apakah dia dapat atau diperkenankan pulang ke Lebanon.

Hariri menjabat perdana menteri Libanon tak sampai satu tahun. Dia mewakili beberapa kelompok di Lebanon setelah ada kesepakatan yang antara lain berkenaan dengan dipilihnya Michel Aoun yang bersekutu dengan Hizbullah sebagai presiden.

Menteri Saudi urusan Teluk Persia Thamer Al-Sabhan melalui media sosial Twitter menyatakan negaranya akan melakukan tindakan “eskalatif dan keras terhadap Lebanon sampai semua urusan kembali ke posisinya yang alami.”

Al-Sabhan menyatakan demikian tak lama setelah Saudi merilis seruan kepada warga negaranya agar meninggalkan Lebanon secepatnya, dan atau tidak bepergian ke sana. Tiga hari sebelumnya dia mencuit bahwa negaranya akan memperlakukan Lebanon sebagai negara yang menyatakan perang terhadap Saudi karena Hizbullah. (mm/rayalyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL