Teheran, LiputanIslam.com –  Pemimpin Besar Iran Grand Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menyebut ibadah haji sebagai ibadah yang menjadi manifestasi perpaduan antara spiritualitas dan politik karena memiliki keistimewaan besar berupa pertemuan superkolosal antarumat Islam dari pelbagai penjuru dunia di satu tempat dan pada waktu yang sama.

“Haji yang sejati ialah haji yang disertai dengan keberlepasan diri dari musyrikin di satu sisi, dan menyediakan peluang bagi persatuan dan soliritas umat Islam di sisi lain,” terangnya dalam pidato saat ditemui para pejabat dan panitia penyelenggara ibadah jemaah haji Iran di Teheran, ibu kota Iran, Senin (16/7/2018).

Dia juga mengingatkan bahwa Haramain Mekkah al-Mukarromah dan Masjid Nabawi adalah milik seluruh umat Islam sehingga jangan ada pihak tertentu yang merasa dapat berbuat semaunya dan sewenang-wenang di dua tanah suci umat Islam itu.

“Ka’bah, Masjidil Haram, dan Masjid Nabawi adalah milik seluruh umat Islam, bukan hanya milik orang-orang yang berkuasa di tanah itu…Siapapun tak berhak menghalangi terwujudnya konsep haji yang sejati, dan jika suatu negara dan pemerintahan melakukan tindakan ini maka sungguh ialah telah menghalangi jalan Allah,” tegasnya.

Ayatullah Khamenei kemudian menjelaskan bahwa tegaknya Republik Islam Iran telah memperlihatkan kemampuan Islam tampil prima di pentas politik dan gelanggang kehidupan universal sehingga mengandaskan upaya-upaya laten untuk memisahkan agama dari politik, dan “ibadah haji terhitung kesempatan dan pentas operasional untuk memperlihatkan kombinasi antara agama dan politik.”

Menurutnya, pertemuan umat Islam di satu tempat dan waktu yang sama pada musim haji merupakan pertanda adanya tujuan-tujuan yang melampaui norma spiritual semata, dan salah satu tujuan penting haji adalah pertemuan, komunikasi, dan kesefahaman antar umat Islam. (mm/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*