palestina abdel bari atwanLondon, LiputanIslam.com – Mengomentari ketegangan hubungan Iran – Saudi pasca eksekusi ulama Syiah Saudi Syekh Nimr al-Nimr oleh rezim Saudi, penulis dan jurnalis populer Arab berdarah Palestina, Abdel Bari Atwan, menilai rezim Saudi bermaksud memobilisi kalangan Sunni untuk menghadapi Iran.

“Kerajaan Arab Saudi sengaja meningkatkan ketegangan diplomatik dan mobilisasi Sunni dalam menghadapi Iran,” tulis Atwan dalam editorial situs berita Rai al-Youm yang berbasis di London, Inggris, Rabu (6/1), sembari menyebutkan bahwa Iran sendiri cenderung kepada ketenangan demi menjaga perolehan strategisnya di Suriah melalui aliansinya dengan Rusia.

Mantan pemimpin redaksi koran pan-Arab al-Quds al-Arabi ini juga menilai aksi Saudi membangkitkan kehebohan dengan menghukum mati Syeikh al-Nimr juga cenderung ditujukan untuk mengalihkan perhatian publik dari keterpurukan kondisi ekonomi Saudi, dan terlebih lagi dari isu “keterbengkalaian operasi Badai Mematikan” yang dilancarkan Saudi dan sekutunya terhadap Yaman; hal yang juga telah membangkitkan keresahan di dalam negeri Saudi.

Atwan menambahkan, “Metode Saudi dewasa ini ialah berusaha menghancurkan prestasi-prestasi yang telah dicapai Iran akibat keberhasilannya menjalin perjanjian nuklir dengan enam negara besar yang menjurus pada pencabutan embargo Iran dan membuat Iran dapat kembali ke tengah masyarakat internasional sebagai kekuatan yang dapat diterima dan bukan teroris. Secara teori, kembalinya Iran yang akan dimulai pada pertengahan tahun ini berarti kembali kepada pasar minyak, pencairan miliaran USD aset Iran yang dibekukan, dan pembelian senjata mutakhir baru, terutama dari Rusia dan Cina.”

Menurut Atwan, meskipun berhasil memprovokasi Iran dalam kobaran isu sektarian karena telah terjadi pembakaran Kedutaan Besar Saudi di Iran, tapi Saudi gagal memobilisi negara-negara Sunni agar ikut berhadapan dengan Iran.

Pasalnya, lanjur Atwan, Turki yang pekan lalu masuk dalam dewan kerjasama strategi dengan Saudi ternyata tidak ikut menutup kedutaan besarnya di Iran, tidak menarik duta besarnya di Iran. Turki memilih mengambil kebijakan sendiri dengan menahan diri dan menyatakan siap menengahi kemelut hubungan Iran – Saudi.

Atwan menambahkan bahwa Kuwait yang merupakan anggota Dewan Kerjasama Teluk (GCC) juga tidak memutuskan hubungan dengan Iran, melainkan cukup dengan memanggil duta besarnya. Kuwait juga tidak mengusir duta besar Iran seperti yang dilakukan Bahrain, dan tidak pula menurunkan status hubungan diplomatiknya ke level kuasa usaha seperti yang dilakukan Uni Emirat Arab.

Atwan lantas menegaskan bahwa pihak-pihak yang diuntungkan oleh tensi hubungan Saudi – Iran adalah kalangan garis keras dari kedua belah pihak, sedangkan yang rugi adalah kalangan moderat dan mereka yang menyadari bahaya konflik ini. (mm)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL