Tentara Israel menyita bendera Hizbullah

London, LiputanIslam.com –  Pemimpin redaksi media online Rai al-Youm, Abdel Bari Atwab, menjawab pertanyaan mengapa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut kelompok pejuang Hizbullah Lebanon sebagai pasukan terkuat di Timteng setelah IDF.

Dalam catatan editorial untuk Rai al-Youm, Ahad (26/8/2018), Atwan menilai tak perlu heran ketika IDF menyatakan demikian, karena Israel sudah dua kali kalah dalam perang di Lebanon selatan; pertama, perang pada tahun 2000 sehingga terpaksa angkat kaki dari Lebanon Selatan; kedua, perang pada tahun 2006 yang dalam beberapa hari terakhir ini sedang diperingati oleh Hizbullah.

“Menariknya, militer Israel belakangan ini mengadakan latihan perang semata-mata untuk menghadapi perang yang berpotensi dikobarkan oleh Hizbullah untuk menguasai bagian utara wilayah pendudukan Palestina dan menggempur kota kota-kota Israel dengan rudal,”tulis Atwan.

Menurutnya, Israel hanya berlatih perang melawan Hizbullah dan bukan melawan tentara negara Arab  manapun karena tentara itu memang sudah tidak diperhitungkan lagi oleh militer Israel karena pemerintahnya sudah “menyerah dan menormalisasi hubungan dengan Israel” sehingga Israel memandang mereka justru sebagai sekutu yang bahkan ikut latihan perang bersama pasukan Israel di bawah bendera AS.

Atwan menambahkan bahwa koran Yedioth Ahronoth milik Israel mengutip laporan IDF mengenai data-data yang menunjukkan bahwa Hizbullah memiliki arsenal baru senjata dan peralatan tempur canggih, termasuk ratusan drone, teropong malam hari berkualitas tinggi, peralatan elektronik anti drone, dan rudal yang sanggup membawa ludu ledak seberat setengah ton.

Atwan mengingatkan bahwa yang menjadi ukuran untuk ketangguhan suatu pasukan bukanlah jet tempur serta jumlah personil, tank, dan mobil lapis baja, melainkan keahlian bertempur, kemampuan pemimpinnya dalam mengambil keputusan perang,  serta faktor keimanan, altruisme, dan ideologi kesyahidan.

“Inilah yang menimbulkan ketakutan pada para petinggi militer Israel. Sekarang mereka selesai dari  latihan perang untuk mulai mengantisipasi keadaan terseburuk, dan mereka kuatir kekalahan pada tahun 2006 akan terulang lagi dengan kerugian yang lebih besar,” pungkas Atwan.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*