Khartoum, LiputanIslam.com – Pemerintah Sudan, Senin (17/12/2018), menyatakan bahwa kunjungan presiden negara ini, Omar al-Bashir, ke Suriah merupakan inisiatif untuk menyatukan bangsa-bangsa Arab dan upaya untuk mengatasi krisis Suriah.

“Kunjungan Presiden al-Bashir ke Suriah dilakukan dalam kelanjutan prakarsanya untuk menyatukan orang-orang Arab dan mengatasi krisis Suriah,” kata Faisal Hassan Ibrahim, asisten presiden Sudan, dalam pidatonya pada pertemuan mahasiswa di Khartoum, ibu kota Sudan, Senin (17/12/2018).

Sehari sebelumnya, al-Bashir mengunjungi Damaskus, ibukota Suriah, di mana ia diterima oleh sejawatnya, Bashar al-Assad, dan sejumlah menteri pemerintah Suriah.

Al-Bashir didampingi oleh Menteri Kepresidenan Fadl Abdalla Fadl, Menteri Luar Negeri Sudan Osama Faisal, dan Duta Besar Sudan untuk Suriah Khalid Ahmed Mohamed.

Ibrahim menambahkan, “Kunjungan ini dilakukan juga demi kesudahan krisis Suriah setelah ada pengabaian di pentas Arab pada banyak forum.”

Dia juga mengatakan, “Campurtangan internasional dan regional yang terjadi di Suriah menuntut tindakan untuk penyelesaian konflik, penguatan barisan, penyembuhan luka Suriah, dan kesatuan keputusan dan barisan Arab.”

Hassan Ibrahim yang juga menjabat wakil ketua partai Kongres Nasional yang berkuasa di Sudan menyebut Suriah sebagai negara yang terlibat perlawanan terhadap Israel.

Kunjungan al-Bashir dilakukan secara mendadak dan mengejutkan, dan dia pulang ke Khartoum  di hari yang sama setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Assad.

Dengan demikian, al-Bashir tercatat sebagai pemimpin pertama dunia Arab yang berkunjung ke Suriah dalam kurun waktu sekira 8 tahun terakhir, yaitu sejak Suriah dilanda perang akibat pemberontakan dan terorisme, di mana Suriah dikucil oleh negara-negara Arab sesuai kehendak Arab Saudi dan negara-negara Teluk sekutunya. (mm/raialyoum)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*