Washington, LiputanIslam.com –  Menteri Energi AS Rick Perry menyatakan negaranya tidak akan membekali Saudi teknologi nuklir kecuali jika Riyadh menyetujui pelaksanaan inspeksi secara mendadak dan mendalam oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IEAE).

Saudi diharuskan mengadopsi Protokol Tambahan IAEA, yaitu seperangkat aturan pemantauan yang diikuti oleh lebih dari 100 negara dan membuat tim pengawas dapat leluasa mengakses situs-situs nuklir potensial.

“Kami telah mengirimi mereka surat berisi persyaratan yang akan dimiliki AS, tentu saja sesuai dengan apa yang diharapkan IAEA dari sudut pandang protokol tambahan,” kata Perry dalam sebuah briefing di Wina, Austria, Selasa (17/9/2019).

Baca: Menteri Energi AS Tuduh Iran Berada di Balik Serangan Terhadap Kilang Minyak Saudi

Dia yang menghadiri pertemuan tahunan IAEA minggu ini di Wina menambahkan, “Protokol tambahan adalah apa yang akan diperlukan, bukan hanya karena itulah yang dibutuhkan IAEA tetapi karena itulah yang dibutuhkan Kongres. Ini bukan hanya pemerintahan Trump yang memutuskan secara sepihak.”

Arab Saudi berencana untuk meluncurkan tender bernilai miliaran Dolar AS pada tahun 2020 untuk membangun dua reaktor tenaga nuklir pertama, di mana perusahaan-perusahaan AS, Rusia, Korea Selatan, Cina dan Perancis terlibat dalam pembicaraan awal.

Baca: Ada Kemungkinan Aramco Diserang Lagi, Yaman Peringatkan Pekerja Asing untuk Menjauh

Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman pekan lalu mengatakan bahwa Arab Saudi ingin memperkaya uranium untuk program energi nuklirnya, sebuah proses yang juga bisa menghasilkan material fisil untuk bom nuklir. (mm/raialyoum/bloomberg)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*