Baghdad, LiputanIslam.com –  Pernyataan Menlu Amerika Serikat (AS) Rex Tillerson mengenai keberadaan”milisi Iran” di Irak dan desakannya supaya mereka keluar mendapat reaksi keras dari pasukan relawan Irak dan pemerintah Iran.

Pemimpin gerakan Ashaib Ahl al-Haq, salah satu komponen terbesar pasukan relawan tersohor Irak al-Hashd al-Shaabi, Qais al-Khazali, menegaskan bahwa AS beserta Menlunya harus menarik pasukannya dari Irak segera setelah tidak ada lagi dalih perang melawan kelompok teroris ISIS.

“Kepada Menlu AS… pasukan militer Anda sekarang harus bersiap-siap keluar dari negeri kami, Irak, segera dan tanpa ditunda lagi setelah berakhirnya dalih keberadaan ISIS,” ungkap al-Khazali melalui akun resmi Twitternya, Senin (23/10/2017).

Bersamaan dengan ini, Hadi al-Amiri, Sekjen Organisasi Badr yang merupakan kelompok terbesar dalam al-Hashd al-Shaabi, mengimbau Perdana Menteri Irak Haider Abadi tidak menyambut kedatangan Tillerson karena kedatangan ini tidak diharapkan di Baghdad.

Tillerson sendiri telah berkunjung ke Baghdad dan mengadakan pertemuan dengan Abadi, Senin. Pada kesempatan ini Abadi menegaskan bahwa relawan al-Hashd al-Shaabi merupakan “harapan bagi Irak dan kawasan.”

Sebelumnya, dalam jumpa pers dengan Menlu Saudi Adel al-Jubeir di Riyadh, Minggu (22/10/2017), Tillerson mengatakan bahwa sudah tiba saatnya “kelompok-kelompok yang didukung Iran kembali ke rumah masing-masing”, demikian pula orang-orang Iran yang menjadi penasehat militer mereka setelah membantu Irak mengalahkan ISIS.

Juru bicara al-Hashd al-Shaabi, Ahmad al-Asadi, juga mengecam pernyataan Tillerson ini sembari menuntut AS meminta maaf atasnya.

Dalam jumpa pers di gedung parlemen Irak, al-Asadi yang juga anggota parlemen mengatakan, “Pernyataan Menlu AS mengenai milisi Iran tak dapat diterima dan merupakan tuduhan tak berdasar sama sekali. Semua pejuang di tanah ini adalah orang-orang Irak sendiri.”

Al-Asadi juga menyebut pernyataan itu menandakan “minimnya pengetahuan Tillerson atau sikap meremehkan darah yang tumpah”. Karena itu al-Asadi mendesak AS agar meminta maaf atas pernyataan ini.

Di pihak Iran, Menlu Javad Zarid dalam jumpa bersama Menlu Afrika Selatan Maite Nkoana-Mashabane di Pretoria, Senin, justru mengakui bahwa di Irak memang terdapat milisi Iran tapi sudah pulang ke negaranya.

“Tentu di sana ada milisi Iran. Sekarang, mengingat bahwa perang melawan ISIS sudah hampir berakhir , maka milisi itu memang akan pulang ke negaranya,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa milisi itu sudah ada di negara mereka tanpa menunggu perintah AS, karena “seandainya mereka menunggu perintah Tillerson dan AS maka kita sekarang akan melihat ISIS di Bagfhdad dan Arbil.” (mm/rayalyoum/alalam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL