Moskow, LiputanIslam.com – Kementerian Pertahanan (Kemhan) Rusia menegaskan pihaknya memiliki bukti-bukti tak terbantahkan mengenai serangan bom kimia yang terjadi di Aleppo, Suriah, bulan lalu, dan menepis klaim  Amerika Serikat (AS) bahwa serangan kimia tidak terjadi di sana.

“Pernyataan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS tak lain adalah upaya pembenaran untuk para teroris yang aktif di Idlib dan orang-orang yang terkait dengan tim penyelamat gadungan “White Helmets” yang provokasinya telah memberatkan pihak Barat yang mensponsori mereka,” tegas Kemhan Rusia dalam statemennya, Jumat (7/12/2018).

Statemen itu menyatakan, “Pihak Rusia memiliki bukti-bukti kuat bahwa para teroris menggunakan bom mengandung zat kimia beracun terhadap warga sipil di Aleppo pada 24 November 2018.”

Kemhan Rusia menyatakan bahwa serangan ke kawasan permukiman di Aleppo itu menjatuhkan korban luka puluhan orang, termasuk anak-anak kecil.

Sebelumnya pada hari yang sama AS menuding Rusia dan Suriah pada bulan lalu sengaja membuat-buat insiden untuk merusak perjanjian gencatan senjata di Idlib.

Kemlu AS  dalam statemennya menegaskan bahwa pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia, telah “secara salah menuduh oposisi dan kelompok ekstrimis melakukan serangan klorin” di barat laut Aleppo pada 24 November.

“AS membantah keras narasi ini dan memiliki informasi yang kredibel bahwa pasukan pro-rezim (Suriah) kemungkinan menggunakan gas air mata terhadap warga sipil,” tuding Kemlu AS.

Bulan lalu, lebih dari 100 orang terluka di Aleppo akibat serangan gas beracun di mana pemerintah Suriah dan Rusia menyalahkan kawanan bersenjata.

Seorang pejabat kesehatan di Aleppo saat itu menyatakan bahwa para korban mengalami kesulitan bernapas, radang mata, dan berbagai gejala lain yang menimbulkan kecurigaan akan adanya penggunaan gas klorin.

Kemlu AS mengklaim bahwa para pejabat pro-pemerintah Suriah telah mengendalikan lokasi serangan, “memungkinkan mereka untuk berpotensi membuat sampel dan mencemari situs sebelum penyelidikan yang tepat oleh Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW)”.

Kemlu AS menegaskan, “Kami memperingatkan Rusia dan rezim terhadap perusakan lokasi penyerangan yang dicurigai, dan mendesak mereka untuk menjaga keselamatan para inspektur independen yang tidak memihak sehingga mereka yang bertanggung jawab dapat dimintai pertanggungjawaban.”

Kemlu AS mengaku memiliki “informasi yang menunjukkan bahwa personel Rusia dan Suriah terlibat dalam insiden gas air mata, dan percaya bahwa kedua negara menggunakannya sebagai kesempatan untuk merusak kepercayaan kepada gencatan senjata di Idlib”.

Pada September lalu pemerintah Suriah dan kubu pemberontak telah mencapai kesepakatan gencatan senjata di Idlib yang membuat pasukan pemerintah urung melancarkan serangan secara besar-besaran ke kota di bagian barat laut Suriah tersebut. (mm/rt/mee)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*