amerika jen psakiWashington, LiputanIslam.com – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menepis anggapan bahwa dukungan dan bantuannya kepada oposisi Suriah setengah hati sehingga tidak efektif.

Menurut laporan kantor berita Iran, IRNA, Kamis (8/5/2014), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, Jen Psaki, mengatakan, “Tidak benar anggapan bahwa AS bukanlah pendukung yang efektif bagi mereka.”

Pernyataan ini dia kemukakan sebagai tanggapan atas kritikan para pemimpin gerilyawan pemberontak Suriah terhadap Gedung Putih yang menyebutkan AS tidak serius menyokong oposisi Suriah sehingga tidak efektif.

Dalam jumpa pers di Washington Psaki menegaskan AS tetap berkomitmen menyokong apa yang disebutnya sebagai koalisi oposisi moderat Suriah.

“Tidak ada negara yang memberikan bantuan sebesar bantuan AS kepada koalisi moderat,” tandas Psaki.

Namun demikian, dia mengakui adanya perselisihan pendapat mengenai bantuan tersebut dan mekanisme pengirimannya.

Dia lantas menyinggung kunjungan pemimpin koalisi oposisi Suriah (SOC), Ahmad al-Jarba, ke Washington. “Al-Jarba telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri dan Presiden AS,” ungkap Psaki.

Rabu kemarin al-Jarba mengajukan permohonan langsung kepada Kongres supaya AS meningkatkan bantuan persenjataan kepada pemberontak Suriah, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, untuk melawan pasukan Presiden Suriah Bashar al-Assad.

Saat tampil di Institute Perdamaian AS, Washington, al-Jarba menekankan bahwa gerilyawan sangat memerlukan bantuan persenjataan yang dapat melawan angkatan udara yang digunakan Assad untuk menggempur posisi-posisi pemberontak hingga kota Homs pun jatuh ke tangan pasukan pemerintah Suriah.

Al-Jarba mengatakan, bom-bom yang dijatuhkan oleh jet tempur dan helikopter pemerintah Suriah telah menimbulkan “mimpi buruk” bagi pihak oposisi. “Karena itu,” lanjut dia, “kami menginginkan senjata yang dapat ‘menetralisasi’ angkatan udara.”

Permohonan itu dia ajukan karena selama ini AS masih enggan mengirim senjata anti serangan udara kepada pemberontak Suriah karena khawatir senjata itu jatuh ke tangan kelompok-kelompok teroris, khususnya Front al-Nusra dan Daulat Islam Irak dan Suriah (ISIL) yang juga bertempur di Suriah untuk menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad.

Al-Jarba dilaporkan akan tetap berada di AS hingga tanggal 14 Mai mendatang. (mm/irna/almonitor/bloomberg)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL